Eceng Gondok, Hutan Terbakar, Musuh Samosir
kampung halaman
Apa modal yang dimiliki Samosir untuk menjadi tujuan wisata? “Ada tiga,” jawab Mangindar Simbolon, Bupatio Samosir, dengan
tangkas. “Pertama, nature atau potensi alam. Kedua, kekayaan
sejarah orang Batak. Ketiga, ekosistem yang unik. Mo-dal inilah yang harus dikelola untuk menjadikan Samosir sebagai daerah wisata. Kita bisa menjual konsep ecotourism. Dan yang pasti, Samosir tidak akan ikut-ikutan menawarkan wisata berbasis prostitusi dan judi,” tutur Mangindar Simbolon, Bupati Samosir.
Samosir menyembul di tengah-tengah Danau Toba. Danau terbesar kedua di dunia ini, menurut para ahli, terbentuk dari sebuah ledakan vulkanik sekitar 74.000 tahun yang lalu, dan sampai saat ini super vulcano aktif berada di dasar Danau Toba, yang aliran panasnya dapat dinikmati di lokasi pemandian Aek Rangat, Pangururan. Danau dengan perairan seluas 62.480 ha ini merupakan salah satu keajaiban dunia. Sayang, dalam penetapan tujuh keajaiban dunia tahun ini, dari Indonesia yang terpilih justru Pulau Komodo.

Alam Danau Toba merupakan sebuah kesatuan ekosistem yang unik. Danau tersebut terletak Pulau Sumatera, dikelilingi pegunungan Bukit Barisan. Pulau Samosir sendiri terhampar tepat di tengah-tengah Danau. Yang mencengangkan, di Pulau Samosir sendiri terdapat beberapa danau kecil yang muncul di puncak bukit, seperti Danau Sidihoni, Danau Pea Porongan dan Danau Aek Na Tonang. Posisi Danau Toba di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut menjanjikan udara nan sejuk.
Bangsa Batak yakin bahwa di Pulau Samosir, tepatnya di Pusuk Buhit-lah sejarahnya bermula, titisan yang diturunkan Ompu Mula Jadi Na Bolon dari langit. Sejarah orang Batak umumnya didekati dari sisi mitologi. Sementara jika kita cermati uraian ilmiah Profesor Cash dari Australia dikatakan bahwa saat ledakan terjadi 74.000 tahun silam, muncul bencana yang sangat hebat dan species manusia saat itu hampir punah. Artinya, terbuka kemungkinan untuk melakukan pendekatan secara ilmiah tentang asal-usul orang Batak di Pusuk Buhit. Hipotesanya, mungkin saja species manusia yang lolos dari bencana saat itu adalah orang Batak. Bukankah kemungkinan itu sangat terbuka?
Kalau teori itu benar dan bisa dibuktikan, orang Batak bisa berbangga punya leluhur yang tangguh dan bisa selamat dari bencana. Hebat…!
Pusuk Buhit adalah tempat suci bagi para peziarah. Situs sejarah dan religi ada di sana. Dalam Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPDA) Samosir, ditetapkan tiga wilayah wisata unggulan: Pusuk Buhit, Tuktuk, dan Simanindo dan sekitarnya; serta Onan Runggu dan Palipi.
Putri kayangan
Menurut Mangindar, kawasan Pusuk Buhit akan dikembangkan ke tiga arah, yaitu ke arah barat, batasnya adalah Tele, yang selama ini diyakini sebagai tempat permandian para putri dari kayangan. Akses transportasi dari zona ini, kabarnya, akan diperbaiki tahun ini. Zona timur dikembangkan ke arah Pangururan, di mana sudah ada Aek Rangat dan akan dikembangkan camping ground artau lahan tenda. Mengelilingi pinggang Pusuk Buhit akan dibangun lintasan cable car atau kereta gantung dimulai dari Menara Pandang Tele.
“Pemkab Samosir juga telah mengagendakan program Sakralisasi Wilayah Pusuk Buhit. Puncak Pusuk Buhit akan menjadi zona sakral, yang hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki, tapi terbuka kemungkinannya bagi transportasi dengan kuda,” urai sang bupati.
Alam adalah pusat pesona pariwisata. Untuk menjaga kelestarian alam Samosir, ada beberapa lokasi yang ditetapkan sebagai Area Konservasi Lahan, Kebun, Ternak, serta Sabuk Hijau (Green Belt), yaitu di Sub DAS Binanga Papan Lumban Buntu /Dugul Desa Tomok Kecamatan Simanindo seluas 83,15 ha, di Sub DAS Binanga Ompu Ratus (arah ke Lontung) seluas 114 ha, di Sub DAS Binanga Bolon /Pangumpatan (arah ke Urat II – Palipi) seluas 3.631 ha, di Sub DAS Binanga Tulpang /Guluan 1.788 ha; dan di Sub DAS Binanga Aek Tawar/Guluan seluas 4.432 ha. Pusuk Buhit juga ditetapkan sebagai kawasan konservasi hutan dan lahan. Selain itu, di Sosortolong, Pa-lilit, Tomok, akan dibangun Kebun Raya Samosir sebagai Kebun Raya ke-20 di Indonesia yang ditetapkan berdasarkan Instruksi Presiden yang dikeluarkan tahun ini. Rencananya akan berada di lahan seluas 100 ha.
Untuk lokasi konservasi Sumber Daya Air ditetapkan Embung Aek Siporoan di Salaon serta Arboretum Aek Natonang di Desa Tanjungan, Simanindo, seluas 105 ha dengan catchment area atau wilayah resapan seluas 545,29 ha.
Wisata tentu bukannya alam dan infrastukturnya saja, kata Mangindar dengan bersemangat. Isi wisata itu sendiri juga penting. Karena itu pemerintah kabupaten Samosir melakukan konservasi situs dan cagar alam, yaitu Konservasi Situs di Sosortolong (Batu Mangampin, Batu Suga, Batu Gu, Hariara Nabolon), Situs Makam Sipiso Sumalim, Situs Ulu Darat. Legenda juga akan disusun, diawali dari Situs Tamba Tua, Situs Si Boru Pareme, Situs Datu Parngongo, Situs Boru Saroding, Situs Bulu Turak, Gua Bunda Maria, Aek Porohan, Makam Tua Sidabutar, Batu Persidangan di Siallagan, Batu Bottean, Liang Sipogu, Liang Marlangkop, Sipale Onggang dan Makam Tua Simarmata. Di sekitar Pusuk Buhit saja ada sekitar 47 situs. Menurut kabar, pertengahan Juli lalu diadakan launching Revitalisasi Situs Batu Hobon.
Tanpa alas kaki
Di kawasan Batu Hobon, seluas 20 ha yang telah diberikan masyarakat, akan dibagi ke dalam tiga zona, yaitu zona lapis ketiga yang bisa dimasuki kendaraan dan sekaligus sebagai lahan parkir, lapis kedua untuk jalur pejalan kaki, di mana kendaraan tidak dibolehkan masuk. Sementara di lapis pertama, yaitu zona inti, hanya bisa dimasuki tanpa alas kaki.
Potensi alam Samosir sangat cocok untuk berbagai jenis olahraga tantangan, seperti paralayang atau sepeda gunung (mountain bike). Untuk olahraga paralayang, Samosir punya potensi tempat take off atau tinggal landas terbaik di dunia. Cross country atau lintas alam juga sangat mungkin dikembangkan, mengi-ngat hutan Samosir yang cukup luas, 10.000 ha.
Samosir telah menggelar hajatan tahunan Lake Toba Ecotourism setiap bulan Mei selama lima tahun terakhir. Kegiatan tersebut merupakan media promosi potensi wisata olahraga di Samosir.
Oloan Simbolon, ST, Ketua KONI Samosir mengatakan, “Samosir adalah tempat yang tepat untuk olahraga prestasi dan olahraga rekreasi. Kondisi geografisnya cocok untuk atletik, bela diri, dan olahraga bahari (renang, dayung). Paralayang, sepeda gunung, panjat tebing, volley pantai, selancar air potensial dikembangkan sebagai wisata rekreasi dan tantangan. Pemerintah kabupaten telah membenahi landasan paralayang dan rencananya juga akan memfasilitasi peralatannya.”
Menurut pengamatan Oloan, olahraga tradisi memang hampir terlupakan, padahal di Samosir sebe
narnya ada motcak (silat) yang punya jurus khas, yang masih dikuaasi oleh orang-orang tua Samosir. Untuk itu KONI sedang menjajaki pembentukan POMI (Persatuan Olahraga Masyarakat Indonesia) yang diharapkan dapat bekerja menggiatkan olahraga tradisi.
Selama ini, salah satu kendala pariwisata Samosir adalah transportasi. Akses transportasi feri dengan jalur Ajibata-Tomok, yang dikelola swasta selama ini, akan dibantu oleh dua jalur yang dikelola pemerintah, yaitu Muara-Nainggolan (direncanakan selesai tahun 2009 ini) dan Tiga Ras- Simanindo.
Samosir juga belum memiliki kegiatan-kegiatan yang terencana. Untuk itu saat ini pemerintah kabupaten mencoba menggiatkan acara olahraga dan budaya. ‘Samosir Horas Fiesta’ (tak jelas mengapa berbahasa Inggris gado-gado, apa tak percaya pada bahasa Batak! – red) menurut rencana berlangsung belum lama ini di SMU Negeri 1 Pangururan. Acara ini akan menjadi kegiatan tahunan seni dan budaya.
Buptai Mangindar Simbolon mengatakan, pemerintah kabupaten juga telah berupaya membangun jejaring dengan tujuh kabupaten/kota di sekitar Danau Toba dengan membentuk Lake Toba Forum Management (lagi-lagi Inggris! ai aha do – red) dengan tiga fokus, yaitu sektor industri pariwisata, agribisnis dan infrastruktur perhubungan. Belajar dari Bali sebagai satu-satunya daerah yang telah memiliki Badan Pariwisata, saat ini Samosir juga berjuang untuk bisa memiliki Badan Pariwisata Danau Toba. Pemerintah pusat, katanya, sudah memberikan dukungan untuk ide itu.
Membakar sampah
M. Manao, pematung dan pemilik kios, sudah 20 tahun tinggal di Samosir, sejak lelaki itu menikah dengan istrinya, Boru Sidabutar. Bapak dari lima anak itu sebenarnya berasal dari Bawomataluo, Nias Selatan, tempat yang terkenal dengan Hombo Batu (lompat batu setinggi 1,7 meter). Manao berkeluh-kesah tentang tentang turis yang sangat minim jumlahnya sekarang ini. Padahal, dulu turis sangat ramai, terutama di musim liburan, lalu di bulan November sampai Tahun Baru.

Turis sering mengeluh me-ngenai pesawat dari luar negeri yang tidak langsung ke Medan. Harus transit di mana dulu. Sehingga Samosir bukan sebagai tujuan.
Banyak yang masih harus dibenahi. Sayangnya, para pelaku industri pariwisata di Samosir masih jalan sendiri-sendiri. Organisasi belum dianggap sebagai sebuah kebutuhan sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Meskipun begitu, rasanya masih mungkin untuk memulai dengan hal-hal sederhana. Mungkin sebelum Badan Pariwisata Samosir terwujud, pemerintah dapat me-ngupayakan adanya Pos Informasi Pariwisata di wilayah Tomok, Pusuk Buhit dan Pangururan yang memberikan layanan informasi gratis, lalu membangun Kantor Pembantu Imigrasi untuk mempermudah turis dalam urusan memperpanjang visa.
Sebelum ada kegiatan-ke-giatan hebat yang terencana, harus diupayakan agar ritual adat, seperti acara kawin dan patangkok saring-saring menjadi tontonan bagi para wisatawan. Di Bali dan Tanah Toraja, acara serupa telah lama dijadikan magnet yang menyedot wisatawan.
Sambil terus melakukan upaya konservasi, kita juga harus menjaga hutan Samosir agar tidak terbakar. Salah seorang turis Australia yang bernama Lea, beberapa bulan lalu dengan berang menunjukkan hasil pemotretannya, yaitu adanya hotel di Tuktuk yang masih membakar sampah.
“Lihatlah, di tengah isu global warming, masih ada yang membakar sampah. Tidak peka. Ini akan membuat kami turis tidak suka,” kata Lea dengan setengah geram. Lea mengirimkan foto-fotonya yang memberikan citra buruk tersebut ke beberapa temannya yang peduli akan lingkungan. Amang oi, jerit orang-orang setempat, kita harus bergegas mengatasi kebakaran hutan yang terjadi di Samosir, sebelum orang-orang seperti Lea lebih berang lagi. Dan jangan lupa, enceng gondok harus ditangani lebih maksimal, supaya saat Danau menghempas, tanaman yang tidak dikehendaki itu tidak lagi “menghias” pantai, membikin hati gondok.
Teks dan foto oleh Sri RM Simanungkalit, kontributor TAPIAN melaporkan dari Pangururan
*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi agustus






PUlau Samosir atau Danau Toba sekitarnya,masih jauh ketinggalan dibandingkan dgn pengelolaan tempat2 turis di negara2 Asia Tenggara.
Di daerah Toba kita ini perlu dirancang kembali,profesionalisnya rendah sekali.
Buktinya tahun2 terakhir sejak ex presiden Suharto jatuh,situasi di daerah turis disekitar Toba,sangat drastis menurun sampai sekarang.
Sedangkan di Thailand dan Vietnam Malasia makin ramai didatangi turis dari Eropa.
Danau Toba sdh berpuluh-puluh tahun dikenal Eropa,banyak yg memuji keindahannya,akan tetapi mereka sering kecewa dgn akomodasi hiburan,transportasi,makanan yg masih nonprofesional.
Jadi dari itu banyak org Eropa hanya sekali berkunjung ke Daerah Toba sdh cukup.
Mereka lebih senang berkalu-kali berkunjung ke P.Bali apa ke daerah2 turis di negara sekitar Indonesia.
Saya kadang2 bertanya dlm hati,begitu besar kwalitas daerah ini untuk maju,akan tetapi tak adakah yang mempedulikannya?,dimana orang2 ,anak2 Toba yg kedengarannya pintar disana-sini ,akan tetapi ada tambang emas di kampung diterlantarkan saja?.
Terus menjaga keindahan Danau Toba sekitarnya,pelihara ecosystemnya,mengubah mental primitifnya,menghargai alam.
Karena Turis mengunjungi 1.Keindahan Alam ,kebersihan,makanan yg enak dan hiburan yg menyenangkan(unik),
maka merekapun akan kembali menikmatinya dihari2 mendatang.
[Reply]