RECOMMENDED

Marandus Sirait Sang Pencipta Taman Eden

Saat tiba di Laguboti, Balige, tersiarlah kabar ada se­orang penerima Kalpataru di sekitar daerah itu. Ini tentulah kabar yang sangat menggairahkan. Terusik keinginan untuk selekasnya mencari tahu sekaligus menemuinya. Tak sabar lagi untuk bersua dengannya. Kata banyak orang, penerima Kalpataru ini juga mem­budidayakan tanaman yang sudah langka di bumi Batak.

Si penerima pohon ke­hidupan itu, namanya juga sudah sangat dike­nal warga di sekitar Balige dan Porsea. Kalau ada orang yang masih asing dengan naman­ya, cukuplah menanyakan kepada kerumunan orang yang berada di terminal atau lapo, dan tanyakan di mana lokasi Taman Eden 100. Yang ditanya akan menunjukkan arah Lumbanjulu. Ya, di situlah ”markas besar” dari Marandus Sirait. Dusun­nya bernama Lumban Rang, Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lum­banjulu, Tobasa, sekitar 16 kilometer dari Parapat atau 40 km dari Balige.

sosok

Taman Eden 100 dan Maran­dus Sirait bagai pinang dibelah dua, karena dialah yang mengelola taman dengan konsep agrowisata itu. Lah­annya seluas 40 hektar yang hanya diperuntukkan untuk konservasi lingkungan Danau Toba. Marandus Sirait dengan mudah ditemui di Ta­man Eden 100. Atau sebaliknya, ka­lau ke Taman Eden 100 pasti akan menjumpai Marandus Sirait. Sirait dan Eden jadi kata kunci.

Taman Eden 100, adalah karya nyata dan bukti perjuangannya bagi lingkungan. Dia melakukannya tanpa banyak basa-basi, seperti kebanyakan orang lain, yang hanya menanam pohon untuk pencitraan, semata-mata untuk mendongkel semakin naiknya popularitas. Ma­randus bukan seperti orang-orang kebanyakan. Sebuah apresiasi yang setinggi-tingginya layak diberikan kepadanya. Hingga Kalpataru datang menghampirinya. Dan penghargaan itu pun dinilai sangat wajar baginya. Dia adalah penerima Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan tahun 2005, yang langsung diberikan oleh petinggi republik ini, Susilo Bam­bang Yudhoyono, di Istana Cipanas, Bogor. Saat menerima penghargaan tertinggi untuk upaya pelestarian lingkungan itu dia masih berusia cu­kup muda, 38 tahun, masih lajang. Dia barangkali termasuk kategori penerima Kalpataru yang termuda sampai sampai saat ini.

Pendeta Muhammad

Mengunjungi Taman Eden, buah karya Marandus Sirait, sangat­lah mudah, karena pintu gerbangnya langsung berada pada sisi jalan di sebelah kiri, kalau tamu berangkat dari Parapat. Namun, karena pintu gerbang berada pas di tingkungan, maka sering tak terlihat. Mobil ser­ing kelewatan dan alhasil terdampar di Polsek setempat, yang memang jaraknya tak jauh dari taman itu. Setelah tiba di pintu gerbang Taman Eden 100, ayunkanlah kaki melang­kah masuk ke dalam, menempuh jalan yang sedikit menanjak. Jalan masuk adalah jalan berbatu, yang ka­lau kita tapaki maka batu-batu kecil pasti ikut tercampakkan ke sana-ke sini. Menarik, menyusuri jalan itu. Kita bisa melihat tanaman-tanaman yang sudah ditanam, juga melihat setiap tanaman itu yang sudah ada nama pemiliknya, nama si penanam dan tanggal saat tanaman itu dihun­jamkan ke dalam tanah.

sosok2

Seorang Pendeta bernama Mu­hammad pun pernah menanam po­hon di situ, dan namanya langsung terlihat saat menyusuri jalan yang berbatu itu. Sampai di penghujung jalan, terdapat sebuah pos komando utama, sebuah rumah kayu yang ter­lihat sebagai tempat informasi sekali­gus rumah tinggal. Dinding-dinding rumah itu, yang bertempelkan ban­yak guntingan-guntingan koran pun bercerita mengenai seorang sosok yang akan ditemui. Memang, sudah banyak media yang mengupas sosok yang satu ini.

Usai memanggil si empunya rumah, keluarlah seorang kakak, dan dia berkata, ”Abang sedang ke dalam, sedang mengantar pengunjung ke rumah Tarzan, silahkan menunggu sebentar.”

Pasti sudah terbayang rumah yang dimaksud tentulah sebuah ru­mah pohon. Karena, kabarnya Tar­zan tinggal di pohon bukan di gua. Rumah Tarzan, air terjun dua tingkat, air terjun tujuh tingkat, gua kelela­war, bukit Manja, hingga hutan yang masih dihuni sepasang harimau, ada­lah daya tarik dari wisata di Taman Eden 100 ini. Kalau ingin menuju ke beberapa lokasi disediakan beberapa orang sebagai pemandu. Bila mau ke Bukit Manja maka akan menempuh jarak sekitar 5 kilometer atau sekitar 2,5 jam dari posko dengan berjalan kaki, menembus hutan, dengan jalan­an yang menanjak. Tak berapa lama kemudian, seorang yang memakai kaus berwarna merah, bercelana pendek coklat dan bertopi rimba da­tang menghampiri. Dia mengiyakan sebagai orang yang tengah dicari.
Banyak yang mengagumi ke­beradaan Taman Eden 100, namun Marandus mengatakan, ”Sebenarnya, bagi saya ini belum selesai, semua masih berjalan, memang sudah ter­dapat 100 tanaman berbuah di sini. Namun, kami masih harus menam­bah beberapa fasilitas lain, seperti gua-gua penginapan, kolam panc­ing, tempat main untuk anak-anak. Juga kami mau coba mendatangkan kuda. Jadi bagi saya ini baru berjalan sekitar 50%.” Sebuah jawaban yang menarik, bahwa kerja kerasnya yang sudah membuahkan hasil ternyata masih belum berakhir. Dari brosur mengenai Taman Eden 100 ini, me­mang tertulis bila taman yang telah diupayakan sejak tahun 1999 itu di­targetkan semua akan tercapai pada tahun 2020.

Saat ini, di taman Eden 100 juga telah dibudidayakan tanaman-tanaman langka di bumi Batak, bah­kan yang sudah jarang dijumpai lagi, seperti jabi-jabi, hariara, sampinur bunga, tahul-tahul dan tentu saja andaliman, yang sering diplesetkan menjadi ”keandalan iman.”

Di dalam taman terdapat area khusus untuk konservasi Anggrek Toba atau Orchid Park. Anggrek Toba di Taman Eden 100 ini meru­pakan satu-satunya taman konser­vasi anggrek hutan milik Sumatera Utara. Selain itu, sejak 29 Septem­ber 2007 dan seterusnya, Marandus Sirait tengah mengupayakan Bank Pohon, yang dimaksudkan agar da­pat menyuplai bibit-bibit ke kawasan Danau Toba yang lain, dengan niat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Dengan beragamnya tanaman di situ, maka wisata dengan konsep agrowisata lebih tepat diberikan ke Taman Eden 100 ini, meskipun ta­man ini juga kerap dijadikan sebagai wisata rohani. Sepertinya dia enggan untuk menambahkan fasilitas rumah ibadah seperti layaknya sebuah wisa­ta iman di daerah Sidikalang yang memiliki empat rumah ibadah. Ma­randus hanya akan menambahkan gua-gua doa, yang akan diupayakan­nya sealami mungkin. Dan kemung­kinan nantinya bisa digunakan oleh semua umat pemeluk beragama.

sosok3

”Dikasi nama seratus itu me­mang agar ada seratus tanaman ber­buah di sini, dan saya hitung-hitung ternyata sudah lebih. Sedangkan Taman Eden-nya ini diambil dari kitab Kejadian 2 ayat 15, yang buny­inya usahakan dan lestarikan bumi. Dulu kan di Taman Eden itu semua makhluk bisa hidup berdampingan, baik manusia, hewan, juga tanaman-tanaman. Semuanya hidup rukun,” ka­tanya menguraikan. Dia pun menco­ba menerangkan kembali makna dari taman yang dikelolanya ini. Sebuah harapan agar semua bisa rukun kem­bali di Taman Eden 100 ini. Tak ber­lebihan. Karena, meskipun namanya Taman Eden 100 yang cenderung Alkitabiah, namun ternyata yang per­nah datang ke situ tidak hanya kaum kristiani, pendeta budhis pun pernah meditasi di taman ini.

Chris Poerba

** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi september


One Response to “Marandus Sirait Sang Pencipta Taman Eden” »

  1. Comment by Marihot Sirait — September 30, 2009 @ 4:31 am

    Salam Lestari.

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Komentar