RECOMMENDED

Margondang, makan arsik dan sang-sang Nurnberg

Bagi masyarakat Bat­ak mendirikan atau membentuk suatu komunitas sudah menjadi sebagian dari tradisi yang diwariskan dari nenek monyang mereka. Jadi tidaklah heran, di be­lahan bumi mana pun masyarakat dijumpai, mereka selalu mempunyai wadah perkumpulan yang bernama ‘’Punguan Batak.’’ Begitu juga de-ngan keberadaan masyarakat Batak yang bermukim di Eropa.Punguan Batak dapat di jumpai di hampir se­tiap negara di Eropa.

Khususnya bagi kami masyarakat Batak yang bertempat tinggal di Jerman, perkumpulan Batak bahkan sudah berdiri hampir di setiap Bundesland, yang kalau di Indonesia persamaannya adalah provinsi. Pada umumnya anggota Parpunguan Batak ini hampir 90% terdiri dari suami-isteri yang berbeda bangsa (Batak-Jerman). Punguan Batak di Jerman ini mencakup semua etnis Batak (Toba, Simalungun, Karo, Mandailing dan Dairi).

pesta
Punguan Batak yang ada di Jer­man antara lain: Punguan Batak Ber­lin (Bundesland Branden Burg, ter­masuk kota-kota kecilnya). Punguan Batak Hamburg (Bundesland Ham­burg/ Hansa, termasuk kota-kota ke­cilnya). Punguan Batak Dusseldorf, Bonn, Köln ( Nordrhein westfallen/NRW ) dan kota-kota kecilnya,dan Punguan Batak Jerman Selatan (men­cakup masyarakat Batak di bagian Jerman selatan, misalnya München, Stuttgart, Nurnberg dan kota-kota kecil yang lain) Di antara semua Pun­guan Batak yang terdapat di berbagai negara Eropa, maka ”Bona Pasogit Eropa” merupakan induknya.

Pada umumnya, kegiatan yang dilakukan Punguan Bona Pa­sogit Eropa adalah pesta Batak di musim panas setiap tahunnya, dan biasanya dilaksanakan secara ber­gantian di berbagai negara Eropa. Adapun maksud dan tujuan Parpun­guan ini hanyalah untuk mempererat tali persaudaraan sesama halak Batak yang tinggal di Eropa. Dan tentu saja setiap kami mengadakan pesta, kami turut mengundang wakil peme-rintahan RI yang terdapat di semua negara di Eropa, juga pejabat pemer­intah setempat dan anggota pemuka masyarakat setempat.
Menyiapkan rendang

Punguan kami, ‘’Batak Jerman Selatan,” biasanya mengadakan per­ayaan dalam pesta Natal, dan pesta hari kebangkitan Tuhan Yesus, yaitu pesta Paskah, dan adakalanya pesta di musim panas. Punguan Batak Jer­man Selatan tidak menutup pintu bagi siapa saja yang bersimpati dan mau berbaur dengan masyarakat Batak. Karena itu, tidaklah heran jika banyak di antara orang-orang Jerman dan bangsa-bangsa Eropa lainnya, dan bahkan suku lain dari bangsa In­donesia, yang ikut berpartisipasi.

Biasanya, kami dari Punguan Batak Jerman Selatan selalu me-ngadakan pesta dengan berganti-ganti kota di Jerman Bagian Selatan. Dalam acara-acara pesta, kamipun tak lupa mengundang perwakilan pemerintahan dan beberapa pemuka masyarakat setempat. Tak lupa pen­deta dari gereja-gereja yang terdapat di Jerman Selatan. Dalam hal pem­bagian kerja dan persiapan makanan yang akan dihidangkan dalam pesta tersebut, kami biasanya melibatkan anggota yang bermukim di berbagai kota. Umpamanya, kota Stuttgart menyiapkan rendang, München me­nyiapkan arsik, dan kota Nurnberg menyiapkan sang-sang dan seba­gainya.
Dalam pesta tersebut biasanya pemuda-pemudi dan anak-anak dari anggota punguan ikut aktif berbaur dan mengambil bagian untuk mem­pergelarkan acara hiburan dan kegia­tan lain. Punguan Batak Jerman Sela­tan, dalam setiap pesta yang diadakan mempersembahkan margondang. Tidak heran, karena salah satu dari anggota kami, yaitu Ito Manurung, yang tinggal di München memiliki seperangkat alat musik tradisional Batak, yaitu gondang. Dan ini menja­di salah satu kebanggaan kami, karena kamilah satu-satunya Punguan Batak di Jerman, bahkan di seantero Eropa, yang memiliki instrumen Gondang Batak. Dapat dicatat, sudah banyak di antara anggota Punguan Batak Jer­man Selatan, khususnya kaum laki-la­ki, yang sudah mahir memainkan alat tersebut. Ini tak lain tak bukan karena siapa lagi kalau bukan hasil pelatihan yang diberikan Ito Manurung .

Ada yang unik. Setiap men­gadakan latihan, semua anggota dan pemain gondang harus mengadakan latihan di pinggir sungai yang jauh dari pemukiman penduduk, agar tidak mengganggu masyarakat set­empat. Tapi, belakangan ini entah ke­napa tidak diketahui lagi di mana ke­beradaan gondang tersebut. Muncul Ito Robin Sidabutar, yang bermukim di Manersheim, yang mengusahakan kembalinya gondang dengan men­datangkan seperangkat alat musik tersebut khusus dari Indonesia. Dan para penabuh gondang lantas bersatu dalam grup yang diberi nama ‘’Par­luga.’’

Demikian jugalah pada pesta Bona Pasogit Eropa tahun lalu yang diadakan di Jerman, tepatnya di kam­pung Ompu Dr IL Nommensen, di Nordstrand (pantai laut utara) gon­dang milik ‘’Parluga’’ inilah yang tu­rut memainkan peran memeriahkan pesta bona pasogit Eropa. Adapun tujuan kami, masyarakat Batak di Eropa mengadakan Pesta di kota kecil kelahiran Ompu Nommensen itu hanyalah untuk mengenang seka­ligus menghormati jasa beliau yang telah membawa pengabaran Injil dari Nordstrand sampai ke Tanah Batak. Pesta musim panas di Noordstrand itu kami adakan 2-3 Juli 2008.

Nommensen dibaptis

Dalam pesta tersebut juga tu­rut hadir perwakilan pemerintah RI hampir dari seluruh negara di Eropa. Juga dihadiri Bürger Meister/Wali kota setempat, para pendeta dan masyarakat setempat. Kota kecil Noordstrand, yang jaraknya kurang lebih 200 km dari kota Hamburg dan perbatasan ke Denmark. Kota kecil kelahiran Nommensen ini ada­lah salah satu kota wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan dari negara-negara Eropa maupun dari luar benua itu.

Di musim panas, kota yang dikelilingi laut ini udaranya sejuk. Se­tiap hari bisa disaksikan pasang surut dan pasang naik, ganti berganti setiap enam jam. Di waktu air pasang surut, lautan akan nampak seperti landasan pasir sehingga orang yang tinggal di sana, dan yang sudah berpengala­man, akan dapat berjalan kaki dari pulau Föhr sampai ke Amrun. Dari pulau Nordstrand sampai ke Hallig Südfall, yang memakan waktu kira-kira tiga jam. Dan daerah pertanian di sana sangat indah dan unik, dina­makan Wattenmeer (Laut Kapas). Berbagai jenis burung berterbangan dengan sukacita di sini. Keindahan dan ketenangan inilah yang memi­kat wisatawan untuk berkunjung ke sana.

pesta_2

Sudah tentu pesta Batak di Nor­dstrand mendapat perhatian dari para wisatawan, dan tak ayal lagi mereka mengikuti semua prosesi acara Batak yang dilakukan dalam pesta. Acara di hari Sabtu, 2 Juli 2008, itu kami awali dengan margondang, manortor ber­sama. Ibu-ibu Batak terlihat dengan lincahnya manortor sambil mem­bawa beras di dalam tandok yang diletakkan di atas kepala. Acara ini sangat menarik perhatian wisatawan maupun penduduk setempat.

Dan tentu saja dalam pesta tersebut, kami menggalang pencar­ian dana dengan menjual makanan dan minuman kepada para pengun­jung. Dana yang terkumpul diberi­kan sebagai tanda ucapan terima kasih kami kepada masyarakat Batak yang tinggal di Eropa dan diberikan untuk biaya perawatan gereja setem­pat: Gereja DR IL Nommensen. Di gereja inilah Nommensen di baptis dan di sidhi/confirmation.

Pada hari terakhir, 3 Juli 2008, di gereja yang sama, kami mengada­kan kebaktian umum bersama-sama dengan penduduk setempat dan pen­gunjung, dan dalam acara tersebut kami berkesempatan memberikan kenangan berupa ulos kepada pende­ta gereja tersebut dan kepada Bürger meister (Walikota setempat). Acara ditutup dengan makan bersama.

Pesta Bona Pasogit Eropa ta­hun ini akan diadakan di Paris awal Juli 2009. Demikianlah kegiatan pun­guan masyarakat Batak yang berada di Eropa, khususnya kami yang ting­gal di Jerman. Horas ma dihita sude. Godang Tabe sian Jerman.

Teks dan foto Hanna Stolz Sihombing, pemukim di Jerman


2 Responses to “Margondang, makan arsik dan sang-sang Nurnberg” »

  1. Comment by Marihot Sirait — September 30, 2009 @ 4:29 am

    Horas, maju terus halak hita (batak) manang didia pe diliat portibion.

    [Reply]

  2. Comment by julyster sinurat — October 31, 2009 @ 7:48 am

    bagus sekali punguan yang ada aeperti ini amang. dibonapasoagit jadi beda tipislah dengan eropah ya.
    mudah mudahan tetap berkembang untuk kemajuan dan keberadaan bangso batak di yang akan datang.
    salam aja untuk smua amang.
    mauliate godang ma…jala
    horas. sinurat

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Komentar