RECOMMENDED

Kartini Sjahrir: Bangga Terlahir Sebagai Boru Batak…

Nurmala Kartini Panjaitan atau yang sering dikenal dengan nama Kartini Sjahrir, dengan jelas menyatakan bahwa salah satu harapannya dengan menjadi seorang Ketua Umum Partai adalah untuk dapat lebih memberdayakan kaum perempuan di Indonesia. Menjadi seorang presiden tidak kerap diucapkannya
sebagai salah satu impiannya. Ketika ditanyakan secara langsung, Kartini berkata ia tidak punya ambisi untuk menjadi Presiden.

Secara tegas, ia berkata pula bahwa ia kerap beru­saha agar anggota legis­latifnya dan para anggota Partai Indonesia Baru (PIB) selalu menggunakan akal sehat dalam men­jalankan kegiatan mereka masing-mas­ing. “Melalui PIB, saya juga ingin bisa menyuarakan soal-soal keadilan, plu­ralisme, pemberantasan korupsi secara lebih efektif,” ungkapnya. “Harapan saya ketika menerima jabatan Ketua Umum PIB adalah agar lebih banyak perempuan berkiprah di politik, yang selama ini dianggap teritori kaum laki-laki,” kata tokoh yang kerap dipanggil Ker oleh para sahabat dan kerabatnya.

Partai Indonesia Baru sendiri awalnya dipimpin oleh suaminya Dr. Sjahrir, almarhum. Kartini kemudian dipilih sebagai Ketua Umum yang dipercaya dapat memimpin dan mengarahkan PIB kembali sepeninggal Sjahrir.

“Pak Sjahrir adalah orang yang amat moderat dan pluralis,” kenangnya. “Beliau itu mentor saya, sambungnya lagi. Menurut kisahnya, sejak bertemu semasa menjadi mahasiswa di Universi­tas Indonesia, Sjahrir dan dirinya langsung saling menemukan ke­cocokan, dan dalam berbagai hal selalu saling melengkapi. “Saya ini banyak belajar dari Pak Sjahrir soal-soal ekonomi, juga politik, dan se­baliknya beliau juga banyak belajar dari saya mengenai budaya.”

Menikah dengan Sjahrir sela­ma kurang lebih 31 tahun, baginya juga menjadi proses perjalanan panjang untuk kemudian memu­tuskan berkiprah di dunia politik.
Sehari-harinya Kartini seka­rang ini tinggal sendirian di ru­mahnya, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Tetapi, menurut pengakuannya ia jauh dari rasa ke-sepian, karena banyaknya kesibu­kan sebagai Ketua Umum. Belum lagi banyaknya kerabat yang men­gunjunginya meski sudah ditinggal suaminya, Dr. Sjahrir.

Ketika ditemui, suasana ke­diamannya terasa ramai. “Ini salah satu warisan beliau. Dia paling senang dengan suasana rumah yang ramai,” ucapnya ramah. Secara berseloroh, Kartini menyatakan bahwa dalam beberapa hal Sjahrir sering dikatakan lebih Batak dari­pada dirinya sendiri. Sifatnya yang terbuka, senang mengobrol, bicara meledak-ledak, musikal, senang manortor, dan suka keramaian, yang cenderung mencirikan orang Batak. Ungkap Kartini: “Beliau sempat diadatin pula, marganya dalam Batak adalah Marpaung,” kata Kartini mengenang.
“Kami menikah selama 31 tahun, and it was a very happy marriage…” Kartini mengatakan dia memang ingin dikenal seba­gai Kartini Sjahrir, sebagai bentuk hormat dan bakti pada almarhum suaminya.

sosok

Meski Pandu dan Gita, kedua putra dan putri pasangan Kartini-Sjahrir, kini tinggal dan hidup di Amerika Serikat, Kartini kerap me­nyatakan bahwa ia dan Sjahrir tidak pernah lupa mengingatkan soal bu­daya dan asal-usul mereka sebagai anak-anak bangsa Indonesia.

Anak-anak global

Kartini mengatakan, meski almarhum suaminya berasal dari suku bangsa Minang dan dirinya Batak, di antara keduanya tidak pernah ada bentrokan khusus da­lam hal budaya. Tak ada perten­tangan dalam masalah garis ketu­runan. Maklum, kita semua tahu, katanya, suku Minang memiliki sistem kekerabatan matrilineal, dan sebaliknya Batak dengan sistem patrilineal.
Tidak penting buat Kartini dan Sjahir bahwa anak-anak akan punya garis keturunan dari mana. Keduanya menyebut anak-anak tersebut sebagai anak-anak global, yang tetap tidak boleh lupa akan budaya asal mereka. “Yang pen-ting, budaya itu harus diambil ba­ranya bukan debunya,” katanya.

Di dalam kehidupan sehari-hari, Kartini pula menyatakan ia biasanya berbahasa Inggris dengan kedua putra-putrinya yang kini tinggal di New York, Amerika Ser­ikat. “Bukan untuk bergaya, hanya saja kebiasaan yang sulit ditinggal­kan,” katanya renyah. Sejak menun­tut ilmu untuk meraih S2 dan S3, Kartini dan Sjahrir lama bermu­kim di Amerika Serikat, sampai kedua anak mereka lahir dan kem­bali menimba ilmu di tempat yang sama. Namun uniknya, menurut Kartini ia lebih fasih menggunakan bahasa Batak ketika sedang berada dalam puncak kemarahan. “Ras­anya keluar saja dari mulut saya, dan biasanya anak-anak saya sudah mengerti saya marah kalo saya su­dah pakai bahasa Batak” jelasnya sambil tersenyum.

Kartini berkali-kali menga­takan ia bangga terlahir sebagai seorang Batak. Pembawaan orang Batak yang merdeka, straight for­ward, haus ilmu dan senang tantan­gan, dan ini semua mendorong ke arah kemajuan. Tapi, menurut dia, ada satu hal yang menjadi kelema­han orang Batak yang membuat­nya sering kalah. “Orang Batak itu kurang suka melayani, karena pride-nya yang cenderung tinggi,” keluh­nya. Ini berpengaruh pada Batak dan wilayahnya yang kemudian kurang dikenal luas sebagai daerah yang ramah apalagi menjadi tujuan wisata. “Antara lain karena prinsip kau yang datang kau yang menye­suaikan tersebut,” ungkap Kartini, yang membuat Tanah Batak kurang pesona keramahan. Kartini sangat menyayangkan hal ini dan menu­rutnya sikap semacam ini sehar­usnya dikikis, sebab, orang Batak sesungguhnya sudah cukup punya potensi tinggi untuk selalu maju dalam hidup mereka.

Sebagai Ketua Umum PIB, Kartini juga berkegiatan mengawa­si anggota legislatifnya hingga ke daerah-daerah, terutama menjaga agar tidak terjadi penyelewengan di kalangan wakil daerah tersebut, khususnya dalam hal korupsi.

Korupsi, baginya, adalah hal dasar yang sudah harus diberantas dari dalam tubuh bangsa ini. “Pak Sjahrir banyak menulis tentang ko­rupsi, yang katanya sudah menjadi kanker taraf terminal.” Kartini lalu mengenang yang juga pernah sekali mengutip Bung Hatta yang menya­takan bahwa korupsi sudah men­jadi ”budaya” bangsa kita ini. Maka jelas, korupsi adalah masalah yang harus mendapat perhatian khusus, agar kemudian ia tak berkembang menjadi keyakinan bangsa yang mengakar. Kartini juga member­lakukan hal yang cukup keras, yaitu langsung memberhentikan ang­gotanya dari tugas sebagai wakil rakyat, jika ada anggota legislatif dari PIB yang tercium melakukan korupsi. “Segamblang itu, dan saya sudah sosialisasikan ini sejak awal,” kata tokoh yang bangga disebut se­bagai Boru Batak ini.

Hal kedua yang juga penting adalah perhatian terhadap ling­kungan hidup. Orang Indonesia, terutama yang di daerah, seringkali lupa peduli pada lingkungan. Ini sesungguhnya bisa dimulai dari ru­mah, dan itu bersumber dari ajaran sang Ibu juga.

sosok_2
Kejadian Mei 1998

“Perempuan itu sering dikenai standar ganda,” katanya lirih. Di satu sisi ia diagung-agungkan, di sisi lain ia sering dilemahkan. Padahal, sudah jelas sekali perempuan dan lelaki itu diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi, katanya lagi. Dalam berperan sebagai Ketum PIB, Kartini tidak segan-segan bersikap keras, bahkan mengganti anggota Partainya yang duduk di DPRD, yang diketahui memiliki dua istri. Ini, katanya adalah hak prerogatifnya sebagai sang pemimpin. “Menjadi anggota legislatif artinya menjadi milik masyarakat. Anda harus berlaku sebaik-baiknya.” Menurutnya poligami berdampak ter-hadap kesempatan untuk melakukan korupsi. “Punya istri satu saja cenderung korupsi, apalagi harus menghidupi dua rumah tangga,” katanya pasti.Kartini sejak lama sudah mengkhawatirkan masalah-masalah perempuan semacam ini, dan menjadi salah seorang pendiri Suara Ibu Peduli, sebuah forum yang peduli terhadap problem hak-hak asasi perempuan yang seringkali diabaikan. Dia juga sekaligus menjadi pemerhati lingkungan hidup.

“Kejadian Mei 1998, misalnya, adalah tragedi memilukan yang bisa dialami seorang perempuan Indonesia,” katanya. Meskipun nantinya kasus tersebut akan sulit diusut atau diungkap tuntas, Kartini menyatakan bahwa peristiwa semacam itu sangat memalukan dan tak boleh terulang. Dan kita (perempuan) sendirilah yang harus ada di garis depan untuk mengingatkan hal semacam ini.

Meski demikian, Kartini yakin pula, bahwa perubahan sudah mulai terjadi. Di sana sini, perbaikan mengenai peranan perempuan sebagai manusia yang sejajar dengan lelaki, sudah semakin tumbuh. “Bukti kecilnya, saya sebagai perempuan juga bisa menjadi Ketua Umum Partai.”

Bercermin pada Kartini Sjahrir, maka selebihnya di tangan kaum perempuan sendiri untuk mamahami siapa dirinya dan apa yang sanggup dilakukannya. Sebab, kepercayaan diri dan gambaran tentang perempuan haruslah dibangun oleh mereka sendiri. “Kalau bukan kita (perempuan) siapa lagi?” ungkapnya sambil tersenyum lebar, seraya menunggu dunia di luar dirinya untuk membenarkan sikap yang telah dia ambil dan jalankan dengan penuh keyakinan, baik ketika Sjahrir masih mendampinginya maupun ketika dia harus tegak sendiri seperti saat ini, yang hanya dituntun oleh sebuah cita-cita untuk kemuliaan kaumnya: perempuan dan Batak pula…

** Ariani Zarah Sirait

*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi November


No Response to “Kartini Sjahrir: Bangga Terlahir Sebagai Boru Batak…” »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Komentar