Kini Petani Itu Menarik Becak
Pukul 10 pagi, di depan pasar Balige, banyak becak motor yang menanti penumpang. Si pemilik becak itu sengaja memarkirkan kuda besi itu berderet pas di muka pasar Balige, tertib dan teratur.
Tak jauh dari situ ada sebuah becak lagi. Becak yang satu ini tidak ikut mengantri. Dia memarkir becak motornya sedikit lebih jauh dari pintu masuk pasar. Terkesan si pengayuh becak mungkin tak sabar untuk menunggu giliran penumpang, atau dia memang sedang tidak ingin menarik becak hari itu. Kelihatan dia sangat rapi. Memakai jas. Mungkin akan bepergian atau ada acara adat. Maklum hari itu hari Sabtu.
Saat ditegur, dia mengatakan, ”Buat apa becak saya ini difoto? Kalau ini bukan becak dari Balige. Ini becak di Laguboti.” Amang itu menolak, saat saya meminta izin mengambil foto sebuah becak sebagai kenang-kenangan dari Balige. Namun, alasan yang dikemukakannya cukup menarik. Becaknya bukan becak Balige!
Terang-benderanglah dunia ini, setelah dia mengatakan kalau becak di Balige itu becak Vespa sedangkan becak di Laguboti menggunakan mesin Honda. Kedua-duanya sama-sama ”kuda sembrani,” namun beda mesin, beda tenaga. Katanya, memang becak Vespa awalnya lebih ada dulu di Balige, sekitar tahun 1982. Baru se-telah itu muncul di Laguboti setahun kemudian. Semua becak-becak Vespa ini semula didatangkan dari Padang Sidempuan.
Semula, becak yang digunakan di Laguboti pun sama dengan yang di Balige, becak Vespa. Namun, ka-rena kondisi di Laguboti yang kurang cocok, karena jarak antar satu huta ke huta lain masih cukup jauh, juga jalan banyak yang berkelok dan menanjak, maka berubahlah becak Vespa di Laguboti menjadi becak dengan mesin bermerk Honda, sekitar tahun 1994.

Memang, Balige lebih sesuai untuk becak Vespa, karena sebagai sebuah kota dia sudah menjadi pusat bagi daerah-daerah di sekitarnya. Sarana dan prasarana kota sudah memadai. Kerumunan dan keramaian ada di Balige. Dan jarak tempuh becak Vespa ini pun paling jauh hanya untuk berputar-putar keliling kota. Jarang terlihat becak Vespa dari Balige mengantar penumpang sampai ke Laguboti, namun becak Laguboti, yang bermesin Honda itu cukup sering terlihat di Balige. Begitulah, mungkin atas dasar itu amang yang pemilik becak Honda dari Laguboti itu agak enggan saat becak miliknya diambil fotonya. Karena becaknya bukan becak Balige.
Hilir-mudik mencari sewa
Tapi, siapakah sebenarnya amang itu, yang punya becak Honda itu? Ternyata tadinya dia seorang petani. Sama halnya dengan pengendara becak Vespa di Balige, juga petani. Mereka semua petani, sebagian masih petani, namun tak bisa lagi menggantungkan nasibnya semata-mata pada hasil pertanian. Karena huta me-reka sudah menggeliat menjadi kota. Balige pun sudah bisa kita sebut sebagai kota kecil. Sebagai sebuah kota, dia memang masih agraris dengan sumberdaya dari hasil pertanian. Namun, perdagangan dan jasa juga sudah kental. Itulah yang dialami oleh para petani yang kini juga berjuang hidup menjadi penarik becak. Mereka sadar huta-nya sudah berubah kini.
Hal itu juga yang dialami oleh Amang Anton Siahaan. Dia semula adalah seorang petani yang kini menjadi penarik becak Vespa di Balige. Biasanya,
dia mangkal dan hilir-mudik mencari sewa mulai dari pelabuhan sampai ke Pasar Balige, di pusat kota. Coba dengar alasan amang itu kenapa dia mengayuh kuda besi itu sekarang? ”Kalau mengandalkan hasil padi itu susah. Bayangkan saja, sekali panen hanya 40 kaleng dan itu pun panen setahun hanya dua kali.” Katanya, memang
ada perkumpulan atau komunitas becak Vespa di Balige, yang saat ini anggotanya berjumlah sekitar 180 orang. Namun, dia enggan untuk ikut bergabung, lebih suka ketemu sewa di jalan saja.

Ternyata becak Vespa di Balige pun sudah banyak, sudah mencapai 300 jumlahnya. Menarik, biasanya mereka semua keluar pada hari Jumat, karena pada hari itu para penjual hasil pertanian memasarkan sayur-mayur dan buah-buahan di sepanjang trotoar di beberapa tikungan kota. Bayangkan kerumunan yang muncul di kota Balige di hari Jumat. Di hari itu, semua becak Vespa keluar dari ”sarangnya” mengangkut hasil bumi dari para petani ke pusat kota Balige. Perlu dicatat, ternyata sebuah derap dan proses perkembangan sebuah kota, tak hanya terlihat dari bangunan fisiknya, namun juga dari jenis transportasi penduduknya. Dan urat nadi Balige ditentukan oleh becak Vespa.
** Chris Poerba
*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi November






I just stopped by your blog and thought I would say hello. I like your site design. Looking forward to reading more down the road.
[Reply]
Begitulah lae Hojot Marluga, Amang Siahaan sudah bukan mengayuh beca tapi karena bermesin lebih enak di atasnya, tidak perlu lagi mangkojot, gabe marsiososan bola double na, alai alani kota Balige bersuhu udara dingin boi dope tinaon mohop ni namarsiososan i. Ora Et Labora. Aturlah waktu bekerja sehari, martangiang di sela-sela waktu. Perlu ditingkatkan transportasi 3 roda menjadi 4 roda, bila perlu sudaco dari titikuning dipindahkan ke Balige.
[Reply]