RECOMMENDED

Merawat Opera Batak, Mistik yang Artistik

Alkisah, seorang keluarga menunggu anaknya yang belum pulang dari perantauan. Berhari-hari seperti berbulan-bulan, berbulan-bulan layaknya berabad, namun putra yang dinanti tak kunjung tiba. Setiap hari kedua orangtuanya harap-harap cemas menunggunya jauh di luar kampung. Ayahnya, setiap pagi mengayunkan langkahnya ke depan huta. Menjelang petang dia baru kembali ke rumahnya dengan berita yang sama: anaknya belum juga pulang. Dia pun tak pernah tahu apak­ah anaknya itu masih hidup atau sudah kembali ke pangkuan Mula jadi nabolon, sang penguasa langit. Sampai suatu saat, si ayah sudah pas­rah dan merelakan anaknya itu kalau dia tak akan kembali lagi.

Namun, dia tak kurang akal dan berniat mengganti­kan sosok anaknya itu dengan sebuah patung, yang den­gan bantuan mistik maka patung itu bisa bergerak-gerak. Patung yang bisa bergerak itu, mungkin bisa juga dika­takan seperti patung boneka, diletak­kan di halaman rumahnya, sehingga saat dia melihat patung itu, dia mem­bayangkan putranya yang telah hil­ang “ditelan” bumi dan “menguap” ke angkasa. Saat menikmati patung itu maka kerinduannya tergapai seketi­ka. Itulah awal-mula kisah si gale-gale dari Pulau Samosir yang sangat terke­nal itu. Sebuah cerita rakyat yang san­gat kesohor dari Tanah Batak.

Ternyata, ada yang menarik dari ceritaitu. Dengan terciptanya patung si gale-gale, maka periode awal seni pertunjukkan di Tanah Batak men­emukan titik awalnya saat itu. Selain si gale-gale, mungkin ada cerita-cerita rakyat yang lain, yang hampir serupa, tetapi si gale-gale lebih menonjol daripada yang lain. Dialah cikal-bakal seni pertunjukkan di Bona Pasogit.

Si Amang, yang membuat si gale-gale itu pun mungkin tak akan menyangka kalau berkat dia dan kua­sa mistis, maka terciptalah seni per­tunjukkan dalam era permulaan per­adaban Batak. Amang itu, si pembuat gale-gale itu, bisa pula dicatat kalau dialah si penemu seni pertunjukkan Batak yang pertama kali, walau men­jadi artis atau penemu kesenian pasti tak penting baginya. Keinginannya hanya satu, menjawab kerinduannya kepada anaknya yang tak kunjung datang, yang sedikit banyak terobati oleh patung si gale-gale. Saat si gale-gale itu bergerak-gerak, dengan kepal­anya menggeleng-geleng, tangannya kadang kala naik kadang turun, maka saat itu dia mulai dinikmati. Saat itu pula si gale-gale sudah menjadi sebuah karya seni, sebuah karya yang artistik, yang bermula dari sesuatu yang mistis.

”Syahwat spiritualitas”

Kalau kita hendak menarik kembali jauh ke belakang, untuk mengupas sejarah panjang seni per­tunjukan di Batak, ternyata seni, sadar-tak-sadar sudah menjadi kes­atuan dalam keseharian adat Batak. Umumnya, hampir semua upacara adat merupakan karya dari seni per­tunjukkan, terlihat dengan adanya tari tor-tor yang mengiringi bunyi gondang. Dan yang terpenting, adan­ya maksud dan narasi besar mengapa momen upacara adat itu dilangsung­kan. Ada upacara adat yang dilakukan saat pernikahan, ada juga pada saat panen padi. Aturan-aturan adat juga diumumkan tentang apa yang boleh dilakukan saat berjalannya upacara. Bisakah dinyatakan saat berlangsung­nya upacara adat, untuk pertama kal­inya, di Batak, saat itu sesungguhnya tengah berlangsung seni pertunjuk­kan? Jawaban sangat rumit.

Pada awalnya, semua upacara di Batak adalah sebuah ritual. Si pelaku upacara adat itu tentu tak begitu penting, tapi apakah upacara yang dijalankannya itu bisa dikategorikan sebagai seni pertunjukkan? Mereka mungkin akan marah besar, karena semua yang telah mereka lakukan murni sebagai penghayatan batin dan keimanan. Seorang Parmalim tentu­nya akan tersinggung kalau upacara Sipahalima disebut sebagai sebuah seni pertunjukan. Demikian pula hal­nya para penganut agama Kristen, saat mereka melakukan napak tilas jalan penderitaan Yesus menuju penghaki­man terakhir, di bukit Golgota, yang sering disebut dengan jalan penderi­taan, Via Dolorosa. Tentu saja orang Kristen menolak kalau mengatakan itu adalah seni pertunjukkan.

opera

Sipahalima dan Via Dolorosa lebih merupakan representasi iman keagamaan mereka masing-masing. Termasuk juga agama-agama lain yang merayakan ritual mingguan keagamaan di tempat-tempat ibadah. Mereka akan naik pitam kalau ibadah yang sedang mereka laksanakan ada­lah wujud dari sebuah seni pertun­jukkan yang sarat teatrikal.
Meskipun bila kita mengambil kata mistik yang artistik, maka sudah sangat terang benderang, adanya per­an seorang yang membuat berlang­sungnya prosesi mistik (metafisik) itu dan mengubahnya menjadi ber­cita rasa artistik. Ada peran subyek yang dominan di situ. Namun, mem­perbincangkan semua ini pun, sangat sensitif, karena semua terkait dengan ”syahwat spiritualitas” kita kepada Sang Pencipta. Meskipun tetap ada peran subyek yang menandai, mem­berikan pemaknaan, terhadap ritual itu. Sehingga subyek yang dalam up­acara sakral itu sekaligus juga meru­pakan artis yang menciptakan upac­ara yang artistik itu.

Menjadi profan?

Mistik dan artistik, (tradisi) ritual dan seni tadisi ibarat dua anak kembar yang dilahirkan dari ”rahim” yang sama. Hal ini tak hanya terjadi di Tanah Batak, juga di belahan nu­santara yang lain yang masih mem­pertahankan nilai-nilai tradisi. Seni tradisi, sederhananya dapat dinya­takan sebagai tradisi yang disenikan, diulang-ulang, dipertontonkan agar lebih banyak lagi khalayak yang bisa menikmatinya dan merasakan es­ensinya. Salah satu tradisi yang dis­enikan itu dapat dilakukan dalam media seni pertunjukan.

Lantas bagaimana memban­gun jarak agar semua yang tadinya terkait mistik dapat lebih beroperasi menjadi sesuatu yang artistik? Pada kebudayaan Batak, tak akan mudah mengesampingkan seni pertunjuk­kan tradisi dari ranah ritual yang sarat spiritualitas. Akan sangat berat pula bila membuat dikotomi segala sesuatu yang mistik, yang sakral itu, bisa dijadikan menjadi seni pertunju­kan yang sangat profan, tidak kudus. Karena semuanya bermula dari ritual yang sakral itu. Saat yang ritual, yang sakral itu di komodifikasi menjadi yang profane. Karena itu, menjadi­kan sebuah seni pertunjukan, itu harus dilakukan berhati-hati, sebab menyangkut komunitas yang men­jalankan upacara itu.

Tonil Batak

Seni pertunjukkan tradisi yang sarat artistik di Tanah Batak sering diidentikkan dengan Opera Batak. Di dalam opera biasanya terdapat tiga unsur, yaitu musik, tor-tor, lagu, dan juga ada lakon cerita. Ketiga unsur ini sebenarnya bisa dinikmati tersendiri, namun saling melengkapi, karena ketiga unsur itu saling berhubungan dengan adanya lakon cerita. Opera sendiri, dari pengertian Eropa lebih diartikan sebagai drama yang din­yanyikan. Kabarnya, Opera Batak, telah muncul sekitar tahun 1920-an, namun saat itu belum disebut Opera, tetapi Tonil, Tonil Batak. Tonil itu biasanya mempertunjukkan lakon cerita seperti Tilhang Parhasapi, Par­jamila atau Parjabalungan.

Model pertunjukannya biasa dilakukan dengan cara mengamen, terus berjalan dari satu huta ke huta lainnya. Keluar masuk kampung, be­gitulah yang dilakukan para artis op­era Batak di awal mulanya. Terkadang mereka beramai-ramai, namun tak jarang pertunjukkan itu hanya terdiri satu orang. Sekitar tahun 1930-an, mulailah terjadi akulturasi dengan seni pertunjukan dengan penamba­han sebuah lakon. Ini akhirnya lazim dikenal dengan teater. Saat itulah istilah Opera Batak mulai semakin populer, berkat seorang misionaris yang bernama Pastor Diego Van Den Bigglar. Dialah yang semakin mem­populerkan Opera Batak yang dimu­lai dari Samosir, di daerah Mogang, Kecamatan Palipi.

Opera Batak memasuki masa keemasannya sekitar tahun 1980-an. Saat itu diperkirakan masih ada 30 kelompok Opera Batak. Salah satu yang naik pamor adalah Seni Ragam Indonesia (Serindo). Serindo ini memiliki sebuah kelebihan lagi. Para pemainnya tak hanya halak kita, tapi ada pula yang berasal dari beberapa suku lain. Kelompok ini pernah diun­dang Presiden Sukarno untuk tampil di panggung Istana Negara.

** Chris Poerba

*** Artikel selengkapnya baca di majalh tapian edisi November


No Response to “Merawat Opera Batak, Mistik yang Artistik” »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Komentar