RECOMMENDED

Nasib Sitopa Giring-Giring di Sitampurung

Di Bona Pasogit loceng gereja, yang dalam bahasa Batak disebut giring-giring, berfungsi ganda. Selain dipakai dalam ritual ibadah gerejani, juga digunakan dalam setiap aktivitas masyarakat. Loceng gereja biasanya dicantolkan di palaspalas atau menara gereja. Pesan suaranya, bila suara giring-giring cepat tak putus-putus, itu artinya terjadi bencana. Jika dibunyikan pelan-pelan atau mallus, itu berarti ada yang baru meninggal. Suaranya khas, bisa menjangkau radius 3 km. Membunyikanya harus bertenaga prima, ditarik naik-turun dengan posisi tangan di atas.

Nah, pembuatnya ada di Tanah Batak sana, di Sitampurung. Sitampurung berada di Kecamatan Siborongborong, Kebupaten Tapanuli Utara, sekitar 4 km dari kota Siborongborong. Desa yang terkenal dengan panopa giring-giring (penempa lonceng gereja) itu adalah usaha yang sudah digeluti warga Sitampurung turun-temurun,
yaitu oleh marga Sihombing, khususnya Lumbantoruan yang menjadi marga mayoritas.

Selain membuat giring-giring di Sitampurung juga diproduksi alat rumah tangga, seperti piso atau pisau, sasabi atau disebut parang, panggu atau cangkul. Namun,
sejak produk dari RRT membanjiri toko-toko alat pertanian di Tapanuli, membuat para penempa besi Sitampurung ini kewalahan, dan tidak sedikit yang rubuh.

Untuk menyelamatkan keadaan, tahun lalu, dalam rangka pesta “Parolopolopon 55 tahun HKBP Dolok Nauli,”di Sitampurung, Bonar Napitupulu, Ephorus HKBP dan Torang Lumbantobing, Bupati Tapanuli Utara, memberikan bantuan berupa mesin spring hammer kepada dua kelompok penempa besi di sana. Ketiganya adalah kelompok yang dibina oleh pemerintah kabupaten Tapanuli Utara, di antaranya Rapma dan kelompok Rapi. Pemberian bantuan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan ekonomi penempa besi yang selama ini masih dikerjakan secara manual.

Ketua kelompok Rapi, R. Lumbantoruan, yang mewakili kelompok penempa besi, berterima kasih atas bantuan Pemerintah Daerah dan pucuk pimpinan HKBP tersebut. Dia berharap, se-telah menggunakan sistem spring hammer, produksi mereka meningkat menjadi dua kali lipat.

giring

“Hasil produksi pasti lebih dua kali lipat jika mengunakan mesin dibanding dengan manual. Masalah lain adalah, mahalnya harga jual, tidak terlepas dari tingginya
harga besi di pasar. Harganya Rp3.500/kg ditambah lagi upah pekerja per orang yang semakin mahal. Jadi, tidak sesuai antara pendapat dengan pemasukan. Misalnya, cangkul, harga produksi pengrajin dijual Rp15.000 per buah, tetapi harga produk serupa dari Cina di pasaran hanya Rp13.500,” ungkap Lumbantoruan.

Dulu, sebelum banjirnya produk RRT, ada 100 unit usaha di Sitampurung dengan kapasitas produksi rata-rata 25 cangkul per hari. Sekarang sudah menyusut, 60 unit saja yang bertahan. Hal tersebut dibenarkan Parisma Lubis, salah seorang peng-rajin besi di Sitampurung. Dia mengungkapkan, petani di wilayah ini sudah tidak lagi memesan alat-alat pertanian, seperti cangkul dan babat, kepada pengrajin besi lokal, tetapi membeli produk sejenis dari RRT yang dengan mudah didapatkan
di toko-toko penjualan alat pertanian.

Tambahnya lagi: “Penurunan permintaan sangat berdampak pada pengrajin besi. Tidak sedikit pengrajin itu terpaksa menghentikan usaha yang sudah bertahun-tahun digelutinya.”Selama ini, produksi giring-giring di pesanan gereja, sekolah dan perkebunan di Sumatera, khususnya Sumatera Timur. Sementara alat-alat rumah tangga dijual kepada petani di Bona Pasogit.

** Hotman J Lumban Gaol

*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi November


One Response to “Nasib Sitopa Giring-Giring di Sitampurung” »

  1. Comment by Julyster S Sinurat — February 10, 2010 @ 6:49 am

    bagus sekali ulasannya lae. boha molo nasian huta namianjo muse baritahon hamu?
    alana tung massai godang dope naso hea tarbarita akka parkarejo nahera sarupa tuson.
    adongdo sitopa piso, adong sibahen ulos, odong sibahen abalabal, panggorga,
    alai jarang bahkan dang hea diuas……….
    Au par Ronggurnihuta ima sada kecamatan di Samosir naso dapot bagian tu tao toba di kecamatan i…..
    Salam tusude redaksi ni Tapian da lae……………..!!!!!!!!!!!!
    Horas……

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Komentar