RECOMMENDED

Pendidikan Seni dan Festival Kesenian

Pada tahun 1999 Prof. Dr. I Made Bandem, yang saat itu menja­bat sebagai Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mempra­karsai dibentuknya Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indo­nesia (BKS-PTSI). Badan kerjasama ini diikuti oleh Institut Kesenian Jakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar, Sekolah Tinggi Seni In­donesia Bandung, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang, dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika Surabaya. Ketujuh pergu­ruan tinggi tersebut dengan teratur mengadakan Festival Kesenian Indonesia sebagai acara dua tahunan. FKI yang pertama tahun 1999 di Yogyakarta, FKI kedua tahun 2001 berlangsung di Padang Panjang, FKI ketiga tahun 2003 di Surabaya, FKI keempat tahun 2005 di Bandung, FKI kelima tahun 2007 di Depasar, dan FKI yang keenam berlangsung 5-8 Oktober 2009 di Jakarta .

Dalam FKI keenam tahun 2009 ini, IKJ mendapat kesempatan seba­gai tempat kegiatan fetival dengan tema Exploring Root of Identity, yang mengandung makna bahwa se­tiap seni budaya dan industri budaya harus dicari dari akar kekuatan bu­dayanya sendiri.
Kegiatan FKI ini dimaksud­kan untuk berfungsi sebagai sarana interaksi, forum komunikasi, dan konsultasi, serta sarana penunjang peningkatan kwalitas Tri Dharma Perguruan Tinggi, juga ruang kreatif dan dialogis.

Rangkaian festival meli­puti pertunjukan tari, teater, musik etnis, simponi, pameran seni rupa dan fotografi, aneka workshop dan acara khusus yang melibatkan maha­siswa, seperti street fashion, karnaval, lukisan mural, bazaar.

seni

Di sela-sela acara ada mo­mentum penting, yaitu terpilih­nya Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A sebagai ketua BKS-PTS. Menurut dia pihaknya ke depan sudah memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu bagaimana seni bu­daya bisa sebagai perekat bangsa dan meningkatkan daya saing bangsa serta mengangkat citra Indonesia di dunia internasional.

Serah terima jabatan dari Prof. Sardono W. Kusuma (mantan Rektor IKJ) kepada Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A berlangsung di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 8 Oktober 2009. Prof. Rai menambahkan bahwa meningkatkan daya saing bangsa itu adalah lewat peningkatan kualitas dan bagaimana perguruan tinggi seni tersebut mam­pu berbasis lokal dengan kualitas bertaraf internasional. Hal ini pent­ing, bahwa walaupun kita memi­liki visi internasional, namun kita harus tetap mempertahankan lo­cal genius, local wisdom yang te­lah diwariskan sejak dulu.

Menurut dia, salah satu programnya nanti adalah mem­berikan pelajaran seni nusantara sejak usia dini. Hal ini penting karena jika kita dari awal sudah memperkenalkan berbagai seni dan budaya nusantara kepada generasi penerus, maka niscaya akan melahirkan apresiasi, tum­buh kecintaan dan keharmo-nisan. “Sehingga ada anggapan bahwa perbedaan itu adalah in­dah bukan sekedar wacana,” kata Wayan Rai S yang akan menjadi ketua BKS-PTSI hingga berlang­sungnya festival kesenian Indone­sia tahun 2011.


No Response to “Pendidikan Seni dan Festival Kesenian” »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Komentar