Pulo Batu Menghormati Sitor
Nukilan opera Pulo Batu kembali menampilkan ma-estro opera Batak Zulkaidah boru Harahap dan Alister Nainggolan. Thompson Hs sebagai direktur artistik Pusat Pelatihan Opera Batak (Plot) mempercayakan kedua maestro opera Batak itu untuk ikut dalam pementasan teater yang berlatar belakang heroisme Raja Sisingamangaraja XII dalam menentang Belanda.
Pulo Batu, karya budayawan Sitor Situmorang, dipentaskan 14 Okober 2009 di Erasmus Huis dalam rangkaian perayaan ulangtahun ke-85 Sitor Situmorang yang mengambil temara “Menimbang 85 tahun Sitor Situmorang.” Acara berlangsung berkat kerjasama sayap kebudayaan kedutaan Belanda itu dengan penerbit buku Komunitas Bambu, yang menerbitkan ulang “Toba Na Sae” dan esai dan kritik mengenai Sitor oleh berbagai pengamat.
Pada tahun 1960, Pulo Batu sebenarnya sudah pernah dipentaskan dalam acara mengenang kepahlawanan Sisingamangaraja XII di Istana Negara. Waktu itu grup opera Batak “Serindo” atau seni ragam Indonesia yang dipimpinan oleh Tilhang Gultom mendapat kehormatan untuk mementaskannya.
Pulo Batu lahir awal pada abad ke-19, di hutan belantara, saat berkecamuknya perang melawan “Sibontar Mata” (Belanda) ketika Raja Sisingamangaraja XII melancarkan taktik perang gerilya. Kiat untuk menghentikan perlawanan Raja Sisingamangaraja dilakukan Belanda dengan cara mengajak berdamai dan menjanjikan Sisingamangaraja XII diangkat menjadi Sultan yang ditolak mentah-mentah oleh Raja dari Bakkara itu. Hal itu menyebabkan Belanda semakin marah. Perburuan pun semakin gencar dilakukan untuk menghentikan “Perang Batak,” tersebut, dengan satu tekad Sisingamangaraja XII harus dibunuh termasuk keluarganya.
Menurut Sitor Situmorang, pasukan Sisingamangaraja yang melancarkan perang gerilya “serang dan lari,” dibagi atas 3 kelompok, yaitu kelompok orang tua-tua, kelompok keluarga, dan kelompok prajurit. Di dalam kelompok keluarga ada boru Situmorang, isteri Patuan Nagari bersama anaknya Pulo Batu, isteri Patuan Anggi boru Sagala, sedangkan kelompok prajurit Raja Sisingamangaraja XII terdiri dari Patuan Nagari, Patuan Anggi, dan putri Lopian.

Untuk menyelamatkan nyawa Pulo Batu, ditiupkanlah berita bahwa Pulo Batu telah tewas, jatuh ke dalam jurang di hutan bersama inang pengasuhnya. Padahal, Pulo Batu diserahkan kepada seorang petani yang tinggal di pinggir hutan untuk diasuh, dengan perjanjian merahasiakan siapa sebenarnya Pulo Batu.
Perang terbuka tak bisa lagi dihindarkan, Patuan Nagari, Patuan Anggi tewas diterjang peluru. Putri kesayangan Raja Sisingamangaraja XII, Lopian kena tembak dan menjerit kesakitan, menyebabkan Raja Sisingamangaraja XII, yang sebenarnya tahan peluru tewas kena tembak ketika dia memangku putri Lopian yang bersimbah darah (“tarsubang”-kena pantangan darah).
Delapan tahun sesudah berakhirnya perang (1907), petani yang mengasuh Pulo Batu datang menghadap penguasa tertinggi (Asisten Residen) dan menyerahkan Pulo Batu sambil mengatakan bahwa Pulo Batu adalah cucu dari Raja Sisingamangaraja XII. Ragu dengan informasi itu, Asisten Residen memanggil empat tokoh adat bersama boru Situmorang (ibu kandung Sisingamangaraja XII) dan Ompu Babiat Situmorang, ayah Sitor. Dari kesaksian enam orang tersebut, tiga di antaranya menyatakan bahwa Pulo Batu bukan cucu Raja Sisingamangaraja XII, termasuk ibu kandung baginda, sementara tiga orang lagi menyatakan “ya,” termasuk Ompu Babiat Situmorang.
Setelah melalui kata sepakat, akhirnya Pulo Batu diserahkan kepada mereka yang mau mengasuh anak itu. Ompu Babiat akhirnya membawa Pulo Batu ke Harianboho, Samosir. Di sana dia diasuh beberapa hari, tapi tiba-tiba Pulo Batu hilang dengan misterius. Pencaharian dengan berbagai upaya terus dilakukan, namun tidak ditemukan hingga sekarang.

Dengan judul yang sama, pada tahun 1981, naskah ini pernah dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pementasan disutradarai oleh Wahyu Sihombing. Sebagai tokoh teater modern Indonesia, Wahyu Sihombing dengan detail menyutradarai naskah ini adegan per adegan, sehingga menjadi tontonan kolosal yang lancar dan menarik.
Profesor Reiner Carle yang datang secara khusus dari Jerman untuk menyaksikan Pulo Batu, menyatakan sangat tertarik dan merekam pementasan tersebut dalam pita film seluloid. Dalam pementasan tahun 1981itu Zulkaidah boru Harahap turut serta. Dia sengaja dipanggil ke Jakarta untuk ikut memainkan peran siboru Lopian. Sementara Tarsan Simamora pada masa itu sudah terlibat sebagai pargonsi (pemusik).
Dalam pementasan 14 Oktober 2009 lalu, Thompson Hs justru tampil sendirian untuk memainkan beberapa tokoh dan karakter sekaligus. Mulai dari tokoh petani, guru, Ypes, Ompu Babiat, Raja Lintong, boru Situmorang, Sisingamangaraja XII, dan beberapa karakter yang lain. Diiringi musik yang dimainkan oleh Alister Nainggolan, Zulkaidah Harahap, dan Tarsan Simamora.






No Response to “Pulo Batu Menghormati Sitor” »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Tinggalkan Komentar