Seni Pertunjukan Antar Bangsa dan Mangalahat Horbo
Komposisi musik John Cage dengan judul “I Ching” yang diciptakan berdasarkan teks Tiongkok klasik, di pentaskan tahun 1951. Dia dimainkan dalam konser musik. Caranya de- ngan melemparkan coin lebih dulu, untuk menentukan part atau bagian mana yang akan berhubungan secara khusus serta menjadi rangkaian serial musik yang ditentukan dari hasil lemparan coin berikutnya. Dalam konser ini, part atau bagian musik yang akan dimainkan sangat bergantung pada hasil lempar coin, bukan oleh komponisnya.
Setelah konser itu, John Cage mendapat perhatian yang sangat serius dari publik. Baik penulis, seniman, aktivis serta para pemikir kebudayaan Eropa dan Amerika, mencatat dan mengulas pementasan tersebut, di mana John Cage di-sebutkan berhasil menampilkan elemen seni pertunjukan dalam sebuah konser musik. Komposisi musik “I Ching” itu akhirnya menjadi tolok-ukur bagi seluruh karya John Cage di kemudian hari.
Pada masa itu, John Cage sa-ngat tertarik pada studi kebudayaan India dan sekte Zen dalam ajaran agama Buddha. Ini mempengaruhi cara pandang maupun opini di lingkungan akademisi seni, masyarakat, juga dalam komunitas Fluxus di mana John Cage bergabung, sebuah komunitas yang menjadi kelompok jaringan kerjasama para seniman eksperimental. Mereka juga menolak seni sebagai hal yang sudah baku. Melalui jaringan kerja komunitas Fluxus inilah John bersosialisasi, bergaul, dengan berbagai bangsa.
Komunitas Fluxus menjadi besar setelah George Maciunas me-ngelolanya dengan kredo,atau semboyan, Living Art and anti art (seni hidup dan anti seni). George Maciunas berhasil dengan baik mengorganisir festival Fluxus kedua pada tahun 1963. Festival Fluxus digelar di berbagai kota dan negara. Di Jerman dimulai di kota Weisbaden, kemudian menyusul di Belanda, Inggris, Perancis, Swedia hingga Amerika Serikat.
Lewat konsep pemikirannya, John Cage menjadi tokoh yang berperan besar dan membawa pencerahan bagi generasi muda, yaitu menolak pandangan yang menyatakan bahwa seni adalah sesuatu yang sudah baku. Melalui musik-musik eksperimentalnya, dia kerapkali membuat penontonnya terperanjat. Mereka tak menduga tontonan yang ditampilkan itu justru hadir lewat sebuah konser musik. Melihat cara John bereksperimen, tentu sangat berkaitan dengan wawasan, pengetahuan serta perhatiannya pada seni lain. Artinya, komposisi musik yang ditulisnya tidak berdiri sendiri, tapi termasuk bagaimana cara menampilkannya. Elemen seni pertunjukan seringkali menjadi inspirasi bagi Cage.
Komunitas Fluxus menawarkan gagasan baru dalam dunia seni pertunjukan. Tak ada lagi sekat dari seni rupa (disain, grafis, seni patung, teater, musik, sastra, tari, tata cahaya maupun arsitektur), semuanya bisa ditampilkan dalam kerangka kerja seni pertunjukan yang menjadi va-rian yang mereka tekuni. Perkembangan seni pertunjukan yang dipelopori oleh komunitas Fluxus ini pun banyak menyerap inspirasi dari Timur, khususnya Asia.

Contoh lain dari generasi sesudah John Cage, adalah Philip Corner. Komponis yang cukup sering berkunjung ke Indonesia ini, telah menulis 400-an seri komposisi gamelan, di mana karya-karyanya sering dipre-sentasikan oleh grup gamelan “Son of Lion,” sebuah grup gamelan yang didirikan oleh Barbara Benary di kota New York tahun 1976. Philip Corner juga menyusun komposisi musik berdasarkan karya sastra Korea yaitu Jeongak dan Sujecheon.
Ranah budaya Eropa
John Cage maupun Philip Corner, bisa saja dicap orang berkiblat pada seni orientalisme. Apa yang mendorong kedua komponis ini mendalami relegiusitas dan teks-teks dari tradisi Timur? Motif yang paling kuat dan masuk akal adalah keterbukaan mereka pada budaya dunia yang lebih luas. Seperti Tiongkok, India, Jepang, Afrika, bahkan Timur Tengah. Oleh karena itu, banyak orang yang menempatkan John Cage sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah seni pertunjukan yang menutup abad ke-21 ini. Dengan kata lain, bagi John Cage maupun Philip Corner, seni pertunjukan bukan hanya terbatas pada ranah budaya Eropa dan Amerika saja. Seni pertunjukan bersentuhan dan berdialog dengan seluruh dunia dan segala bangsa.
Dengan semangat bereksperimen yang kuat, kedua komponis tersebut dapat menghindarkan diri dari jebakan orientalisme yang sering menjadi kendala bagi telaah dan pendekatan antropologis, di mana seni ditempatkan sebagai obyek yang baku dan terjebak dalam eksploitasi pada sisi eksotismenya saja. Seni pertunjukan bagi John Cage dan Philip Corner, adalah seni yang bisa membuka ruang dialog berbagai budaya dan bangsa. Tak mengherankan jika seniman berkebangsaan Jepang dan Korea, seperti Yoko Ono, Nam June Paik, Takehisa Kosugi, Shigeko Kubota akhirnya turut bergabung dalam komunitas internasional Fluxus tersebut.
Kesenian tradisi di Jepang, Korea, Tiongkok maupun India, bisa tumbuh dan beradaptasi dengan konsep-konsep modernisme dalam seni pertunjukan mereka. Banyak grup seni pertunjukan dari negara-negara tersebut yang tampil dan mendapat sambutan di dunia internasional. Seperti Butoh, Sankai Juku dan banyak lagi.
Seni pertunjukan tak lepas dari perkembangan tehnologi. Menyerap penggunaan hasil temuan teknologi dan menerapkannya dalam tata cahaya, efek panggung maupun tata artistik. Pergaulan para aktivis seni pertunjukan Asia di tingkat internasional kebanyakan muncul dari Jepang, Korea, dan India. Di samping itu para pekerja seni di masing-masing negara giat menyelenggarakan festival seni pertunjukan yang diselenggarakan sangat profesional dan diprogram dengan baik.

Para pelaku seni pertunjukan selalu siap tampil di atas panggung festival seperti itu. Mereka berperan menjembatani keterbatasan bahasa oral manusia, melalui elemen-elemen visual seni pertunjukan. Seperti bahasa tubuh, ruang, waktu, warna, suara, cahaya, dan elemen teater lainnya. Seni pertunjukan akhirnya menjadi media ekspresi dari berbagai bangsa dalam pergaulan internasional.
Lahirnya kesadaran terhadap potensi seni pertunjukan dalam tradisi dan budaya Indonesia, mulai tumbuh pada tahun awal tahun 70-an. Didirikanlah gedung teater sebagai sarana bagi pertunjukan seni tradisional, meskipun dengan jumlah dan kwalitas yang tidak memadai. Gedung-gedung teater itu hanya terdapat di kota-kota besar provinsi saja, itu pun hanya ada di Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makasar, Padang, Padang Panjang, Medan, dan Banda Aceh. Pembangunan gedung pertunjukan itu sesungguhnya lebih banyak atas prakarsa beberapa sesepuh seni pertunjukan itu sendiri. Tanpa mereka, belum tentu rezim Orde Baru mau memikirkan sarana sekaligus wadah bagi perkembangan seni pertunjukan.
** Jeffar Lumban Gaol
*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi november






No Response to “Seni Pertunjukan Antar Bangsa dan Mangalahat Horbo” »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Tinggalkan Komentar