‘Rap Masihol’ Saling Rindu di Udara
Horas….Tu sude angka dongan na mambege siaran on,
didia pe hamu nuaeng mambege acara on. Salam ma
tu hamu saluhutna. Pajumpa ma muse hita di acara na
tapaima-ima saminggu on, ima acara Rap Masihol Horas.
(Horas…. Untuk semua teman-teman yang mendegarkan
siaran ini, di mana pun kalian berada, sekali lagi salam
untuk Anda. Kita berjumpa lagi dalam acara yang kita
tunggu-tunggu setelah seminggu berlalu, yaitu dalam
acara Rap Masihol).
Demikianlah kata pembuka siaran budaya Batak dalam rubrik “Rap Masihol” yang dipancarkan dari lantai IX, gedung Radio Republik Indonesia di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, ke seluruh penjuru Tanah Air. Acara budaya dari RRI ini dikelola melalui Program 4 stasiunm radio nasional tersebut. Mengudara pada gelombang frequency modulation disingkat FM 92,8 MHZ, atau AM 1332 KHZ, SW 96 80 KHZ. Juga melalui Satelit Telkom Satu pada polarisasi vertikal pada frekuensi 4130 MHZ. Symbol Rote 2100
Mega Symbol/Second PID 257. Sebenarnya, siaran acara budaya Batak ini disiarkan dua kali seminggu, yaitu setiap hari Selasa dalam acara “Marragam Di Bona Pasogit” pukul 20.00 hingga pukul 22.00, dipandu Benny Sitompul.

Sedangkan siaran Rap Masihol atau diartikan “Saling Rindu” mengudara hari Rabu, pukul: 23.00-01.00 bersama Horas Siahaan dan Bernard Hutabarat. Dalam acara ini, para
pendengar dengan pemandu acara bisa berinteraksi langsung, demikian pun dengan narasumber dan sesama pendengar. Umumnya, para pendengar sudah akrab dengan kedua pemandu, Horas Siahaan dan Bernard Hutabarat.
Begitu bunyi telepon “Horas lae Siahan dohot lae Hutabarat. Ahu doi si Anu… Sian Ciputat. Ai songon na rame do hubege pembahasan muna i.” Lalu, pemandu di studio menjawab,
“Ido lae. Adong dison dongantta sian majalah Tapian. Aning ta bahas ma jo on nian majalah ta on.” Kemudian, pendengar itu langsung berintraksi, kebetulan dengan tim majalah kebudayaan TAPIAN. “Horas lae. Baru dope binoto on bah adong majalah Batak,” kata seseorang di ujung telepon. Kemudian mengudaralah percakapan yang akrab dengan tim
TAPIAN yang terdiri dari Dolorosa Sinaga, Chris Poerba, dan Hotman J. Lumban Gaol, mengenai isi majalah.
Itulah suasana acara “Rap Masihol” di studio markombur hingga dua jam tidak terasa, rasa-rasanya sebentar saja. Acara menggunakan bahasa Batak. Mereka yang lahir di kota yang
tidak menggunakan bahasa Batak juga bisa turut serta, karena terkadang digunakan juga Bahasa Indonesia. Siaran ini bisa menjadi tempat belajar berbahasa Batak. Dan, Anda yang ingin sekedar menyapa keluarga atau teman-teman di mana pun mereka berada akan asyik juga kalau ada waktu untuk menikmati siaran ini. Enteng, tetapi informatif.

Menurut pemandu acara, para pendengar belum pernah “kodat” atau kopi darat, untuk sekedar kenalan saling kenal di darat, karena selama ini mereka hanya kenal di udara, itu pun hanya suara. Sudah banyak pendengar setia acara Rap Masihol yang mengusulkan untuk membuat pertemuan atau mendirikan komunitas pendengar khusus Rap Masihol ini.
Menurut Bernard, ada beberapa orang yang berkenalan lewat acara ini dan melanjutkan persahabatan mereka ke pelaminan. Untuk pasangan tersebut, siaran ini benarbenar telah membawa berkah. “Satu waktu pernah ada yang nelepon saya. Lae, saya sudah menikah dengan si Anu. Terima-kasih, lae, “Rap Masihol” inilah yang telah mempertemukan
kami,” cerita Bernard. Komunitas pendengar siaran radio berbasis Batak ini penting ada mengikuti lahirnya komunitas di milis atau di Facebook.






No Response to “‘Rap Masihol’ Saling Rindu di Udara” »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Tinggalkan Komentar