<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah Tapian &#124; budaya untuk kemanusiaan</title>
	<atom:link href="http://majalahtapian.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majalahtapian.com</link>
	<description>Budaya untuk kemanusiaan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 08:43:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>‘Rap Masihol’ Saling Rindu di Udara</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/12/%e2%80%98rap-masihol%e2%80%99-saling-rindu-di-udara/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/12/%e2%80%98rap-masihol%e2%80%99-saling-rindu-di-udara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 08:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Kita]]></category>
		<category><![CDATA[‘Rap Masihol’ Saling Rindu di Udara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[Horas&#8230;.Tu sude angka dongan na mambege siaran on,
didia pe hamu nuaeng mambege acara on. Salam ma
tu hamu saluhutna. Pajumpa ma muse hita di acara na
tapaima-ima saminggu on, ima acara Rap Masihol Horas.
(Horas…. Untuk semua teman-teman yang mendegarkan
siaran ini, di mana pun kalian berada, sekali lagi salam
untuk Anda. Kita berjumpa lagi dalam acara yang kita
tunggu-tunggu setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Horas&#8230;.Tu sude angka dongan na mambege siaran on,<br />
didia pe hamu nuaeng mambege acara on. Salam ma<br />
tu hamu saluhutna. Pajumpa ma muse hita di acara na<br />
tapaima-ima saminggu on, ima acara Rap Masihol Horas.<br />
(Horas…. Untuk semua teman-teman yang mendegarkan<br />
siaran ini, di mana pun kalian berada, sekali lagi salam<br />
untuk Anda. Kita berjumpa lagi dalam acara yang kita<br />
tunggu-tunggu setelah seminggu berlalu, yaitu dalam<br />
acara Rap Masihol).</em></p>
<p>Demikianlah kata pembuka siaran budaya Batak dalam rubrik “Rap Masihol” yang dipancarkan dari lantai IX, gedung Radio Republik Indonesia di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, ke seluruh penjuru Tanah Air. Acara budaya dari RRI ini dikelola melalui Program 4 stasiunm radio nasional tersebut. Mengudara pada gelombang frequency modulation disingkat FM 92,8 MHZ, atau AM 1332 KHZ, SW 96 80 KHZ. Juga melalui Satelit Telkom Satu pada polarisasi vertikal pada frekuensi 4130 MHZ. Symbol Rote 2100<br />
Mega Symbol/Second PID 257. Sebenarnya, siaran acara budaya Batak ini disiarkan dua kali seminggu, yaitu setiap hari Selasa dalam acara “Marragam Di Bona Pasogit” pukul 20.00 hingga pukul 22.00, dipandu Benny Sitompul.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-538" title="radio" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/12/radio-300x225.jpg" alt="radio" width="300" height="225" /></p>
<p>Sedangkan siaran Rap Masihol atau diartikan “Saling Rindu” mengudara hari Rabu, pukul: 23.00-01.00 bersama Horas Siahaan dan Bernard Hutabarat. Dalam acara ini, para<br />
pendengar dengan pemandu acara bisa berinteraksi langsung, demikian pun dengan narasumber dan sesama pendengar. Umumnya, para pendengar sudah akrab dengan kedua pemandu, Horas Siahaan dan Bernard Hutabarat.<br />
Begitu bunyi telepon “Horas lae Siahan dohot lae Hutabarat. Ahu doi si Anu&#8230; Sian Ciputat. Ai songon na rame do hubege pembahasan muna i.” Lalu, pemandu di studio menjawab,<br />
“Ido lae. Adong dison dongantta sian majalah Tapian. Aning ta bahas ma jo on nian majalah ta on.” Kemudian, pendengar itu langsung berintraksi, kebetulan dengan tim majalah kebudayaan TAPIAN. “Horas lae. Baru dope binoto on bah adong majalah Batak,” kata seseorang di ujung telepon. Kemudian mengudaralah percakapan yang akrab dengan tim<br />
TAPIAN yang terdiri dari Dolorosa Sinaga, Chris Poerba, dan Hotman J. Lumban Gaol, mengenai isi majalah.</p>
<p>Itulah suasana acara “Rap Masihol” di studio markombur hingga dua jam tidak terasa, rasa-rasanya sebentar saja. Acara menggunakan bahasa Batak. Mereka yang lahir di kota yang<br />
tidak menggunakan bahasa Batak juga bisa turut serta, karena terkadang digunakan juga Bahasa Indonesia. Siaran ini bisa menjadi tempat belajar berbahasa Batak. Dan, Anda yang ingin sekedar menyapa keluarga atau teman-teman di mana pun mereka berada akan asyik juga kalau ada waktu untuk menikmati siaran ini. Enteng, tetapi informatif.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-539" title="RRI" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/12/RRI-300x228.jpg" alt="RRI" width="300" height="228" /></p>
<p>Menurut pemandu acara, para pendengar belum pernah “kodat” atau kopi darat, untuk sekedar kenalan saling kenal di darat, karena selama ini mereka hanya kenal di udara, itu pun hanya suara. Sudah banyak pendengar setia acara Rap Masihol yang mengusulkan untuk membuat pertemuan atau mendirikan komunitas pendengar khusus Rap Masihol ini.<br />
Menurut Bernard, ada beberapa orang yang berkenalan lewat acara ini dan melanjutkan persahabatan mereka ke pelaminan. Untuk pasangan tersebut, siaran ini benarbenar telah membawa berkah. “Satu waktu pernah ada yang nelepon saya. Lae, saya sudah menikah dengan si Anu. Terima-kasih, lae, “Rap Masihol” inilah yang telah mempertemukan<br />
kami,” cerita Bernard. Komunitas pendengar siaran radio berbasis Batak ini penting ada mengikuti lahirnya komunitas di milis atau di Facebook.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/12/%e2%80%98rap-masihol%e2%80%99-saling-rindu-di-udara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2009: Tahun Kotak Pandora dan I Love You Full</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/12/2009-tahun-kotak-pandora-dan-i-love-you-full/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/12/2009-tahun-kotak-pandora-dan-i-love-you-full/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 07:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Pandang]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Kita sudah sampai pada penghujung 2009. Sepanjang tahun ini berbagai peristiwa silih-berganti menandai perjalanan bangsa ini menujukedewasaan untuk menyejahterakan seluruh warganya. Ada kejadian yang sebagai sebuah peristiwa hanya berusia pendek, ada pula yang berkepanjangn menjadi bahan diskusi di kalangan resmi maupun di kalangan bawah, di kafe, di kedai-kedai kopi, di pinggir-pinggir jalan. Misalnya masalah pemberantasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kita sudah sampai pada penghujung 2009. Sepanjang tahun ini berbagai peristiwa silih-berganti menandai perjalanan bangsa ini menujukedewasaan untuk menyejahterakan seluruh warganya. Ada kejadian yang sebagai sebuah peristiwa hanya berusia pendek, ada pula yang berkepanjangn menjadi bahan diskusi di kalangan resmi maupun di kalangan bawah, di kafe, di kedai-kedai kopi, di pinggir-pinggir jalan. Misalnya masalah pemberantasan korupsi yang telah membuka kotak pandora sehingga terlihatlah siapa gerangan di kalangan aparat negara<br />
yang benar-benar ingin, dan sedang gencar-gencarnya, memberantas<br />
penyakit yang menjadi gaya hidup sekelompok orang yang ingin memperkaya diri dengan mengorbankan kepentingan seluruh masyarakat.<br />
Juga terbaca, siapa yang buaya dan siapa yang bermain mata dengan<br />
para makelar kasus yang ironisnya justru mendapat nama terhormat<br />
sebagai ”markus.” Sehingga mencemari kesucian seorang Rasul dalam<br />
Perjanjian Baru.</em></p>
<p>Kasus ini menyebabkan orang lupa pada prestasi pihak kepolisian dalam memerangi dan melumpuhkan jaringan teroris yang telah mendatangkan kecemasan berkepanjangan di kalangan masyarakat. Peristiwa tidak hanya dibaca tetapi juga dirasakan sebagaimana yang menimpa ribuan penduduk Sidoarjo yang diganyang oleh panasnya<br />
lumpur, yang menyembur karena ulah kaum pemodal yang ingin mengeruk keuntungan. Tetapi, begitu bencana yang muncul, maka dengan mudah mereka mengelak dan bersembunyi di bawah kesepakatan resmi, bahwa yang terjadi adalah bencana alam biasa, dan karena itu negara, dalam arti kata sebenarnya rakyat sendirlah, yang harus menanggung akibat dari bencana yang dicetuskan perbuatan manusia pemodal tersebut. Pemilihan presiden dan wakil presiden kita lalui dengan gegapgempita, dengan menyaksikan persaingan damai penuh bendera dan umbul-umbul serta potret diri di jalan-jalan, juga di podium-podium dengan perdebatan yang memancing minat publik. Walau yang sedang berlangsung esensinya tetaplah kuasi-demokrasi, karena adanya ketetapan MPR yang telah menegasi konstitusi yang menjamin kebebasan menyatakan pikiran dan berserikat. Sebuah tembok buruk yang ingin diruntuhkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, dan masih saja tinggal sebagai cita-cita yang musykil karena ditampik kaum penindas kebebasan berbaju ”demokrasi.” Perjalanan dalam setahun ini, bagaimanapun, penuh warna, banyak ironi yang meggelitik. Kegagalan pemerintah di bidang pelayanan kesehatan melahirkan seorang bocah yang dengan sebutir batu, ya, hanya sebutir batu, telah mengalahkah daya pikat pusat-pusat pelayanan kesehatan yang dibangun pemerintah dengan dana bermilyarmilyar. Barangkali, ini bukanlah cermin keterbelakangan, tetapi lebih merupakan tanda tentang hilangnya kepercayaan pada struktur kekuasaan. Pada tahun ini jugalah Mbah Surip menemukan cita-cita yang dia patok ketika dia meninggalkan kampungnya di Jawa Timur: ketenaran.</p>
<p>Ketika publik kehilangan sosok yang bisa menjadi gantungan hidup, maka mereka menemukan tokoh yang membawa keriaan hidup dalam kesederhanaan si Mbah, dalam keluguan orang yang sedang bergelut dengan bahasa global, dan dengan tanpa malu-malu berkata:</p>
<p>I love you full.</p>
<p>Di bawah ini tim <strong>TAPIAN</strong> menuliskan kembali peristiwa-peristiwa penting sepanjang 2009, sebagai kenangan pada kurun waktu setahun yang telah kita lalui dengan empati yang kita curahkan kepada mereka yang jatuh sebagai korban dan sebagai sebuah tonggak peringatan pada kekuasaan untuk tidak mengulangi kesalahan serupa di tahun mendatang.</p>
<p><strong>‘Buaya’ Lawan ’Tikus’</strong><br />
Semua bermula dari pernyataan seorang Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji. Beliau mengatakan “ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak (KPK) kok melawan buaya (Polisi).” Itu komentarnya saat diwawancarai oleh salah satu media, perihal adanya rivalitas antara KPK dan Polri dalam penanganan masalah korupsi di republik ini. Polri menganggap KPK melakukan penyalahgunaan wewenang dalam penanganan kasus korupsi, terutama dalam praktek penyadapan telepon. Telepon genggam Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji disadap oleh penegak hukum lain, yaitu KPK. Penyadapan itu diduga terkait dengan penanganan kasus bank Century. Pameo ‘cicak dan buaya’ itu berasal dari mulutnya yang gatal tak tahan melihat tingkah KPK. Polisi memeriksa Wakil Ketua KPK non-aktif, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah lantaran<br />
disebut-sebut melakukan penyadapan tak sesuai prosedur dan ketentuan.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-532" title="buaya" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/12/buaya-229x300.jpg" alt="buaya" width="229" height="300" /></p>
<p>Publik bertanya-tanya kenapa sampai ada rivalitas. Bukankah keduanya seharusnya bersama-sama memberantas koruptor. Cicak dan buaya sama-sama hewan melata.<br />
Bukankah seharusnya bersatu untuk menangkap tikus-tikus yang menggerogoti kekayaan negara. Menguaklah kecurigaan publik, jangan-jangan buaya melindungi tikus-tikus.<br />
Pemeriksaan terhadap Chandra pun dituding sebagai bagian upaya polisi dalam untuk melumpuhkan komisi yang tak kenal ampun terhadap koruptor itu. Alhasil, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah ditahan. Sementara Ketua KPK, Antasari Azhar ditahan dan diadili dalam perkara pembunuhan. Kecurigaan akan adanya mafia peradilan yang melibatkan aparat kepolisian dan kejaksaan, terus membesar bagai bola salju yang turun dari puncak bukit. Publik sangat jenuh dengan proses penegakan hukum terhadap koruptor. Koruptor kelas teri tertangkap, tapi kelas kakap dan tongkol lepas begitu saja. Tak ayal, publik memanfaatkan dunia maya, termasuk facebook, untuk memperkuat sikap dalam mendukung langkah-langkah yang ditempuh KPK selama ini. KPK itu sendiri, sebagaimana dinyatakan banyak kalangan, lahir karena kepolisian dan kejaksaan, yang harusnya memikul tugas untuk memberantas korupsi malah bermain mata dengan ”markus” yang bergerak dengan berbagai cara, terutama dengan memainkan kuasa duit untuk membebaskan mereka yang seharusnya dijerat. Lebih dari 1.000.000 facebooker mendukung Bibit-Chandra.</p>
<p>Alhasil, 4 November, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah dikeluarkan dari tahanan polisi, dengan kewajiban lapor sekali seminggu. Minggu, 8 November, para pendukung ”cicak” pun keluar dari sarangnya, berkumpul di hotel Indonesia melakukan aksi ”jalan sehat” yang damai. Ada rekayasa untuk melumpuhkan KPK, itulah soalnya. Selain rekaman yang diperdengarkan di Mahakamah Konstitusi yang dengan jelas menunjukkan (memalukan!) ada pihak yang berduit  ”mengatur” sikap polisi, muncul punya kesaksian di pengadilan yang justru meringankan Antasari Azhar. Tersangka perwira polisi, Wiliardi Wizar, yang menjadi saksi dalam perkara ketua KPK non-aktif itu, membuat publik tercengang. Dia mencabut kesaksian di depan para penyidik dan mengatakan kepada hakim bahwa atasannya memaksa dia membuat kesaksian palsu dengan iming-iming keringanan hukuman. Berbagai kalangan menyebutkan perang antara buaya melawan cicak sekarang ini merupakan momentum yang baik untuk sebuah gerakan sosial &#8212; gerakan yang telah mati suri setelah reformasi 1998.</p>
<p><strong>Bencana Alam dan Buatan Manusia</strong><br />
Bencana alam dan kerusakan lingkungan telah meluluh-lantakkan Indonesia. Ada bencana alam yang disebabkan oleh arogansi serta sikap tak perduli pada kemanusiaan dan<br />
lingkungan, misalnya kasus Porong, Sidoarjo. Semburan awal terjadi di desa Panji 29 Mei 2006. Area bencana kemudian meluas dari hari kesehari, sehingga genangan lumpur<br />
bercampu gas sekarang ini sudah mencapai 640 kali lapangan sepak bola. Para ahli yang menghadiri konferensi internasional mengenai geologi di Afrika Selatan, belum lama ini, mayorirtas peserta menyebutkan bencana di Jawa Tiumur itu disebabkan oleh kesalahan teknis penambangan.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-533" title="bencana" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/12/bencana-300x216.jpg" alt="bencana" width="300" height="216" /></p>
<p>Terakhir ada kabar dari desa Ketapang. Di sungai Ketapang muncul bubble (gelembung gas). Jika disulut api sekecil apa pun akan terbakar. Kendati penduduk telah melapor ke Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), namun yang datang hanya angin lalu. “Ya, kami biarkan saja, meski kami diliputi rasa was-was,” ujar Bambang, warga yang selalu diliputi kecemasan. Sejumlah warga, yang di halaman rumahnya muncul gelembung gas, memanfaatkannya untuk menanak nasi.</p>
<p>Jumlah penduduk yang terpaksa mengungsi dari daerah bencana (menurut catatan Aliansi peduli korban Lapindo) mencapai 50.000 jiwa, meliputi desa Tanggul Angin, Jabon, Siring Barat, Jatirejo Barat, Mindi, Pamaton, Gedang, Ketapang, Glaga Harum, Plumbon, Gempol Sari.</p>
<p><strong>Mbah Surip:   Where Are You Going?</strong><br />
Mbah tak ke mana-mana. Dia menemui Penciptanya 4 Agutsus 2009.</p>
<p>Dan dalam waktu sekejap, lelaki nyeleneh, bergaya rambut gimbal, dan selalu tertawa terkekeh-kekeh itu merebut simpati dan menjadi pujaan banyak orang. Dia tampil<br />
sebagai ”pahlawan” ketika masyakarat merasa berada dalam suasana yang ditinggalkan oleh meraka yang seharusnya memperhatikan nasib mereka. Dari anak kecil hingga<br />
nenek tua, menyanyikan lagunya yang berlirik super sangat sederhana, yang dibuatnya dengan nada dan iringan musik yang juga tak kalah sederhananya. ”Bangun tidur,<br />
tidur lagi&#8230; Bangun&#8230; tidur lagi&#8230; ha ha ha&#8230;” demikian salah satu lirik lagunya.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-534" title="mbah" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/12/mbah-284x300.jpg" alt="mbah" width="284" height="300" /></p>
<p>Semua orang membicarakannya, ada yang bernada iri, ada yang jijik pada pembawaan yang terkesan jorok, ada yang kesal, karena menurut mereka industri musik tercemar<br />
karena nada dan liriknya yang dianggap sembarangan saja, tapi tetap ada yang terus menyanyi sebab memang liriknya kelewat sulit terlupakan. Siapa yang tidak tahu lagu<br />
berirama reggae berjudul “Tak Gendong,” “Bangun Tidur,” “Where Are You Going,” “I Love You Full,” yang dipopulerkannya. Namanya Mbah Surip. Entah bagaimana ia memutuskan<br />
mengambil nama tersebut sebagai nama panggungnya. Diduga keras ia menggunakan istilah “mbah” karena rambut gimbal yang dibiarkan panjang, seperti mbahmbah zaman baheula atau dukun mistis. Nama aslinya Urip Ariyanto. Ia lahir 60 tahun silam di Mojokerto, Jawa Timur. Setelah lagu “Tak Gendong,” Mbah Surip langsung dikenal luas, terutama sebagai seniman penerima royalti sebesar Rp 5 milyar dari penggunaan RBT alias ring back tone, yang kini kian marak di Indonesia.</p>
<p>Pada 4 Agustus 2009, hanya beberapa bulan dari puncak popularitasnya, Mbah Surip tutup usia.</p>
<p><strong><br />
Pemilihan Presiden</strong><br />
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2009-2014 merupakan Pilpres yang penuh sengketa. Pilpres yang diselenggarakan 8 Juli 2009 dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dengan merebut suara 60,80%, dari jumlah pemilih, mengalahkan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto.</p>
<p>Pada 25 April 2009 Komisi Pemilihan Umum menetapkan rekapitulasi perolehan suara hasil Pilpres. Megawati-Prabowo memperoleh suara 32.548.105; JK-Wiranto memperoleh suara 15.081.814; dan pasangan ketiga SBY-Boediono memperoleh suara 73.874.562. Total pemilih 121.504.481 suara. Sebelum Pilpres, sejumlah tokoh nasional telah mencalonkan diri<br />
sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014. Tokoh-tokoh tersebut antara lain: mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso; mantan Menteri Sekretaris Negara, Yusril Ihza Mahendra;<br />
Direktur Eksekutif Freedom Institute, Rizal Mallarangeng; dan Gubernur Yogyakarta, Hamengkubuwono X. Tetapi, pada akhir masa pendaftaran pada 16 Mei 2009, hanya tiga pasangan tadi yang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-535" title="pemilu" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/12/pemilu-257x300.jpg" alt="pemilu" width="257" height="300" /></p>
<p>Saat kampanye terjadi kisruh. Berawal dari dukungan terhadap SBY-Boediono, oleh Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia dan Lembaga Studi Demokrasi yang melancarkan gerakan “Pilpres Satu Putaran Saja.” Hal ini membuat dua pasangan lain gondok. Menanggapi itu, Jusuf Kalla mengatakan dia optimis pasangan JK-Wiranto juga punya peluang yang sama untuk menang dalam satu putaran. Sementara Prabowo mengatakan bahwa Pilpres satu putaran boleh-boleh saja dilakukan, asalkan dilaksanakan secara demokratis. Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang secara terbuka menyatakan dukungannya pada JK-Wiranto, kecewa bahwa pada tim kampanye capres tertentu yang menyerukan agar Pilpres satu putaran saja.</p>
<p>Dari semua ini, yang paling menarik adalah debat calon presiden dan wakil presiden diselenggarakan untuk pertama kali dan disiarkan lewat stasiun TV. Untuk calon presiden tiga kali debat, sedangkan calon wakil presiden dua kali. Debat terdiri dari pemaparan visi, misi, dan program calon yang berlangsung tujuh hingga 10 menit. Pasangan JK-Wiranto dan Megawati-Prabowo mengajukan keberatan terhadap rekapitulasi hasil perolehan suara pilpres 2009 yang telah ditetapkan KPU dan disyahkan oleh Mahkamah Konstitusi. Alasannya, kekacauan masalah penyusunan dan penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT), pengelompokan atau pengurangan jumlah TPS, adanya kerjasama bantuan atau IFES, adanya spanduk buatan<br />
KPU mengenai tata cara pencontrengan, dan beredarnya formulir pemilihan ilegal. Adanya berbagai pelanggaran administratif maupun pidana, adanya penambahan perolehan<br />
suara SBY-Boediono serta pengurangan suara Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Namun, akhirnya putusan MK, pada 18 Agustus2009, menetapkan SBY-Boediono sebagai presiden dan wakil presiden terpilih untuk periode 2009-2014.</p>
<p>** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi <em>Desember</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/12/2009-tahun-kotak-pandora-dan-i-love-you-full/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hutan Di Zaman Kolonial dan Republik</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/11/hutan-di-zaman-kolonial-dan-republik/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/11/hutan-di-zaman-kolonial-dan-republik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:06:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Di Zaman Kolonial dan Republik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Pada periode akhir kekuasaan kolonialisme di Indonesia, konsep hu­tan lestari ternyata sudah mengilhami pemerintah Hindia Belanda masa itu. Setelah memetakan hutan jati di Pulau Jawa, pendataan hutan adat/ hutan marga/ulayat di luar Jawa dimulai pada ta­hun 1930-an. Registrasi dilakukan agar pemerintah Hindia Belanda tidak menebang pohon secara berlebihan, serta mempertimbang­kan jumlah suku-suku bangsa di luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pada periode akhir kekuasaan kolonialisme di Indonesia, konsep hu­tan lestari ternyata sudah mengilhami pemerintah Hindia Belanda masa itu. Setelah memetakan hutan jati di Pulau Jawa, pendataan hutan adat/ hutan marga/ulayat di luar Jawa dimulai pada ta­hun 1930-an. Registrasi dilakukan agar pemerintah Hindia Belanda tidak menebang pohon secara berlebihan, serta mempertimbang­kan jumlah suku-suku bangsa di luar Jawa yang hidupnya sangat tergantung pada hutan. Masing-masing mempunyai karakteristik yang unik pula.<br />
</em></p>
<p>Penelitian karakteristik setiap suku di luar Pulau Jawa, dilakukan Belanda dengan sangat saksama dan memakan waktu yang cukup lama. Pada tahun 1940-an penerbitan buku hasil penelitian tersebut baru bisa terlaksana, dengan judul Adat Recht atau hukum adat, diterbitkan sebanyak dua jilid. Semua kebijakan Belanda,yang bersinggungan dengan hutan, bertujuan agar pengelolaan hutan dan batas-batasnya tidak menimbulkan masalah dengan adat penduduk setempat di kemudian hari.</p>
<p>Registrasi hutan tersebut terpaksa dihentikan, karena Belanda kalah perang terhadap Jepang. Hanya Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara saja yang berhasil ditetapkan batas-batas hutan ulayat dan registrasinya.</p>
<p>Setelah Reformasi Mei 1998, Menteri Kehutanan mengeluarkan SK Menteri Kehutanan no 44 tahun 1999 yang bermaksud menetapkan hutan register itu kembali menjadi hutan ulayat adat. Waktu itu, gagasan hutan ulayat adat yang pernah didata oleh Belanda dengan sistem registrasinya, mencuat kembali sebagai sebuah gagasan bagi gerakan lingkungan hidup dan ulayat adat. Namun tidak bisa berjalan. Sebab data-data lapangan maupun revisi terhadap keputusan pemerintah semasa Orde Baru berkuasa, masih banyak yang bermasalah dan belum sempat dikaji ulang. Belum ada sosialisasi kepada masyarakat, seperti pecinta lingkungan hidup, petani, komunitas masyarakat maupun lembaga-lembaga adat setempat. Termasuk kasus alih status izin Hutan Tanaman Industri antara PT Indorayon Utama kepada Toba Pulp Lestari Tbk.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-521" title="pohon" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/pohon.jpg" alt="pohon" width="500" height="480" /></p>
<p>Akhir-akhir ini, hutan-hutan Register semakin sering mendapat sorotan media dan pemerhati lingkungan hidup, sebab banyak masalah yang muncul di wilayah ranah adat itu. Permasalahan yang ditimbulkannya cukup rumit. Antara lain di daerah ulayat adat misalnya, biasanya sangat sulit bagi seorang petani jika hendak membuat sertifikat tanahnya menjadi tanah milik. Sebab, tanah ulayat adat bukan milik perorangan, tetapi tanah adat, tanah marga atau tanah ulayat adat. Hal ini tentu kurang adil, sebab merekalah yang mendiami wilayah itu secara turun-temurun, namun tidak memi­liki kekuatan “hukum” tanah, menu­rut definisi para birokrat pertanahan dan kehutanan. Inti dari undang-undang tersebut adalah siapapun boleh tinggal di daerah itu, namun jangan pernah bermimpi untuk mer­obah kedudukan tanah menjadi hak milik.<br />
<strong><br />
Mengaburkan masalah </strong></p>
<p>Di sisi lain, Menteri Kehutanan mempunyai kewenangan lebih, jika hendak merubah hutan Register atau hutan ulayat itu menjadi berfungsi sebagai HTI (hutan tanam industri). Sementara itu, sampai saat ini belum ada undang-undang untuk penga­lihan fungsi hutan yang dikeluarkan DPR. Namun, yang menjadi per­soalan adalah, mengapa pengalihan fungsi hutan itu, hanya berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Ke­hutanan dan disetuji oleh DPR saja, tanpa melibatkan masyarakat ulayat adat serta pemerhati lingkungan hidup setempat.</p>
<p>Media cetak pun ikut meng­aburkan masalah seputar hutan ulayat adat ini dengan memberikan informasi yang sering membingung­kan pembaca. Sebab, di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, Sumat­era Barat, Sumatera Utara ditambah Lampung, yang kemudian juga mekar jadi provinsi, bisa saja memiliki nomor registernya sama namun berada di provinsi yang berbeda. Di Sumatera Utara hutan Register 1 berada di Tormatutung, Kabupaten Simalungun, Register 40 di Padang Lawas, Tapanuli Selatan, Register 41 di Humbang-Hasundutan.</p>
<p>Kalau disebutkan hutan Register no 40 Padang Lawas, Tapanuli Selatan, publik jadi mengerti bahwa hutan ulayat adat yang dimaksud itu berada di Padang Lawas. Ada sebuah cerita menarik, mengenai sebuah media cetak, yang pernah secara ngawur menulis sebuah Register hutan di Humbang dengan register 86 dan 82. Padahal hutan ulayat yang tercatat di daerah timur dataran tinggi Tanah Batak itu adalah register 41.</p>
<p>“Nomor registrasi hutan tidak penting lagi, undang-undang no 41 tahun 1999 tidak berlaku lagi,” kata kepala dinas kehutanan Sumatera Utara dalam sebuah kesempatan. Pernyataan tersebut tentu bertentangan dengan keinginan banyak pihak. Komunitas masyarakat adat, pecinta dan aktivis lingkungan hidup, pasti tidak sejalan dengan konsep kerja pemerintah yang menolak kembali penggunaan Register dalam berbagai kasus HTI, menyusul SK Menteri Kehutanan tahun no 44 tahun 2005. Mulai dari Lampung , Sumatera Selatan, Sumatera Barat hingga Sumatera Utara, ternyata sama saja. Perencanaan pengelolaan hutan adat itu ternyata lebih buruk dari apa yang pernah direncanakan Belanda, meskipun Belanda itu penjajah. Tapi, ada satu hal yang menarik untuk dijadikan sebagai landasan kerja, bahwa mereka sudah tahu dan sadar ada batas di bidang eksploitasi hutan, padahal konsep kerja hutan lestari yang mereka rancang berdasarkan kepentingan kolonialisme. Justru di masa kemerdekaan ini, apakah hak-hak masyarakat ulayat adat dianggap tidak penting? Kalau boleh memilih, masyarakat adat tentu lebih condong memilih status register seperti rancangan Belanda. Di mana aspirasi masyarakat ulayat adat mendapat ruang dalam perencanaan hutan dan batas-batas hutan melalui mufakat antara masyarakat ulayat adat, pemerintah dan pemegang izin HTI. Proyek HTI adalah izin yang diberikan Menteri Kehutanan kepada PT Toba Pulp Lestari Tbk. Dalam kasus ini, Menteri dengan sengaja mengabaikan kearifan lokal dan masyarakat adat yang bersinggungan dengan hutan kemenyan di Humbang-Hasundutan. Menteri Kehutanan sudah mempertimbangkan bahwa para petani kemenyan di Humbang itu bukanlah gangguan bagi proyek HTI di kemudian hari. Masyarakat adat Humbang akan diam saja, toh di sana sudah ada DPRD, Bupati, Kepolisian, dan Dandim yang dapat melokalisir konflik menjadi delik hukum yang bisa dicari lewat pasal-pasal yang bersinggungan. Mulai dari pasal pencurian, menebang pohon tanpa seizin yang menanam sampai pasal-pasal subversif.</p>
<p><em><strong>oleh Jeffar Lumban Gaol *</strong></em></p>
<p>** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi november</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/11/hutan-di-zaman-kolonial-dan-republik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulo Batu Menghormati Sitor</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/11/pulo-batu-menghormati-sitor/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/11/pulo-batu-menghormati-sitor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:52:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Pulo Batu Menghormati Sitor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Nukilan opera Pulo Batu kembali menampilkan ma-estro opera Batak Zulkaidah boru Harahap dan Alister Nainggolan. Thompson Hs sebagai direktur artistik Pusat Pelatihan Opera Batak (Plot) mempercayakan kedua maestro opera Batak itu untuk ikut dalam pementasan teater yang berlatar belakang heroisme Raja Sisingamangaraja XII dalam menentang Belanda.

Pulo Batu, karya bu­dayawan Sitor Situ­morang, dipentaskan 14 Okober 2009 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Nukilan opera Pulo Batu kembali menampilkan ma-estro opera Batak Zulkaidah boru Harahap dan Alister Nainggolan. Thompson Hs sebagai direktur artistik Pusat Pelatihan Opera Batak (Plot) mempercayakan kedua maestro opera Batak itu untuk ikut dalam pementasan teater yang berlatar belakang heroisme Raja Sisingamangaraja XII dalam menentang Belanda.<br />
</em><br />
Pulo Batu, karya bu­dayawan Sitor Situ­morang, dipentaskan 14 Okober 2009 di Erasmus Huis dalam rangkaian perayaan ulangtahun ke-85 Sitor Si­tumorang yang mengambil temara “Menimbang 85 tahun Sitor Situmo­rang.” Acara berlangsung berkat ker­jasama sayap kebudayaan kedutaan Belanda itu dengan penerbit buku Komunitas Bambu, yang mener­bitkan ulang “Toba Na Sae” dan esai dan kritik mengenai Sitor oleh berba­gai pengamat.</p>
<p>Pada tahun 1960, Pulo Batu sebenarnya sudah pernah dipentas­kan dalam acara mengenang kepahla­wanan Sisingamangaraja XII di Istana Negara. Waktu itu grup opera Batak “Serindo” atau seni ragam Indonesia yang dipimpinan oleh Tilhang Gul­tom mendapat kehormatan untuk mementaskannya.</p>
<p>Pulo Batu lahir awal pada abad ke-19, di hutan belantara, saat berke­camuknya perang melawan “Sibo­ntar Mata” (Belanda) ketika Raja Sisingamangaraja XII melancarkan taktik perang gerilya. Kiat untuk menghentikan perlawanan Raja Sis­ingamangaraja dilakukan Belanda dengan cara mengajak berdamai dan menjanjikan Sisingamangaraja XII diangkat menjadi Sultan yang dito­lak mentah-mentah oleh Raja dari Bakkara itu. Hal itu menyebabkan Belanda semakin marah. Perburuan pun semakin gencar dilakukan untuk menghentikan “Perang Batak,” terse­but, dengan satu tekad Sisingaman­garaja XII harus dibunuh termasuk keluarganya.<br />
Menurut Sitor Situmorang, pa­sukan Sisingamangaraja yang melan­carkan perang gerilya “serang dan lari,” dibagi atas 3 kelompok, yaitu kelompok orang tua-tua, kelompok keluarga, dan kelompok prajurit. Di dalam kelompok keluarga ada boru Situmorang, isteri Patuan Nagari bersama anaknya Pulo Batu, isteri Patuan Anggi boru Sagala, sedangkan kelompok prajurit Raja Sisingaman­garaja XII terdiri dari Patuan Nagari, Patuan Anggi, dan putri Lopian.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-516" title="sitor" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/sitor.jpg" alt="sitor" width="450" height="280" /></p>
<p>Untuk menyelamatkan nyawa Pulo Batu, ditiupkanlah berita bahwa Pulo Batu telah tewas, jatuh ke dalam jurang di hutan bersama inang pen­gasuhnya. Padahal, Pulo Batu diser­ahkan kepada seorang petani yang tinggal di pinggir hutan untuk dia­suh, dengan perjanjian merahasiakan siapa sebenarnya Pulo Batu.</p>
<p>Perang terbuka tak bisa lagi dihindarkan, Patuan Nagari, Patuan Anggi tewas diterjang peluru. Putri kesayangan Raja Sisingamangaraja XII, Lopian kena tembak dan menjer­it kesakitan, menyebabkan Raja Sis­ingamangaraja XII, yang sebenarnya tahan peluru tewas kena tembak keti­ka dia memangku putri Lopian yang bersimbah darah (“tarsubang”-kena pantangan darah).</p>
<p>Delapan tahun sesudah bera­khirnya perang (1907), petani yang mengasuh Pulo Batu datang meng­hadap penguasa tertinggi (Asisten Residen) dan menyerahkan Pulo Batu sambil mengatakan bahwa Pulo Batu adalah cucu dari Raja Sisinga­mangaraja XII. Ragu dengan infor­masi itu, Asisten Residen memanggil empat tokoh adat bersama boru Situ­morang (ibu kandung Sisingamanga­raja XII) dan Ompu Babiat Situmo­rang, ayah Sitor. Dari kesaksian enam orang tersebut, tiga di antaranya menyatakan bahwa Pulo Batu bukan cucu Raja Sisingamangaraja XII, ter­masuk ibu kandung baginda, semen­tara tiga orang lagi menyatakan “ya,” termasuk Ompu Babiat Situmorang.</p>
<p>Setelah melalui kata sepakat, akhirnya Pulo Batu diserahkan kepa­da mereka yang mau mengasuh anak itu. Ompu Babiat akhirnya membawa Pulo Batu ke Harianboho, Samosir. Di sana dia diasuh beberapa hari, tapi tiba-tiba Pulo Batu hilang dengan misterius. Pencaharian dengan ber­bagai upaya terus dilakukan, namun tidak ditemukan hingga sekarang.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-517" title="sitor_2" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/sitor_2.jpg" alt="sitor_2" width="450" height="280" /></p>
<p>Dengan judul yang sama, pada tahun 1981, naskah ini pernah dipen­taskan di Taman Ismail Marzuki, Ja­karta. Pementasan disutradarai oleh Wahyu Sihombing. Sebagai tokoh teater modern Indonesia, Wahyu Sihombing dengan detail menyutra­darai naskah ini adegan per adegan, sehingga menjadi tontonan kolosal yang lancar dan menarik.</p>
<p>Profesor Reiner Carle yang datang secara khusus dari Jerman un­tuk menyaksikan Pulo Batu, menya­takan sangat tertarik dan merekam pementasan tersebut dalam pita film seluloid. Dalam pementasan tahun 1981itu Zulkaidah boru Harahap turut serta. Dia sengaja dipanggil ke Jakarta untuk ikut memainkan peran siboru Lopian. Sementara Tarsan Si­mamora pada masa itu sudah terlibat sebagai pargonsi (pemusik).</p>
<p>Dalam pementasan 14 Okto­ber 2009 lalu, Thompson Hs justru tampil sendirian untuk memainkan beberapa tokoh dan karakter sekali­gus. Mulai dari tokoh petani, guru, Ypes, Ompu Babiat, Raja Lintong, boru Situmorang, Sisingamangaraja XII, dan beberapa karakter yang lain. Diiringi musik yang dimainkan oleh Alister Nainggolan, Zulkaidah Hara­hap, dan Tarsan Simamora.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/11/pulo-batu-menghormati-sitor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasib Sitopa Giring-Giring di Sitampurung</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/11/nasib-sitopa-giring-giring-di-sitampurung/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/11/nasib-sitopa-giring-giring-di-sitampurung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Nasib Sitopa Giring-Giring]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Di Bona Pasogit loceng gereja, yang dalam bahasa Batak disebut giring-giring, berfungsi ganda. Selain dipakai dalam ritual ibadah gerejani, juga digunakan dalam setiap aktivitas masyarakat. Loceng gereja biasanya dicantolkan di palaspalas atau menara gereja. Pesan suaranya, bila suara giring-giring cepat tak putus-putus, itu artinya terjadi bencana. Jika dibunyikan pelan-pelan atau mallus, itu berarti ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Di Bona Pasogit loceng gereja, yang dalam bahasa Batak disebut giring-giring, berfungsi ganda. Selain dipakai dalam ritual ibadah gerejani, juga digunakan dalam setiap aktivitas masyarakat. Loceng gereja biasanya dicantolkan di palaspalas atau menara gereja. Pesan suaranya, bila suara giring-giring cepat tak putus-putus, itu artinya terjadi bencana. Jika dibunyikan pelan-pelan atau mallus, itu berarti ada yang baru meninggal. Suaranya khas, bisa menjangkau radius 3 km. Membunyikanya harus bertenaga prima, ditarik naik-turun dengan posisi tangan di atas.</em></p>
<p>Nah, pembuatnya ada di Tanah Batak sana, di Sitampurung. Sitampurung berada di Kecamatan Siborongborong, Kebupaten Tapanuli Utara, sekitar 4 km dari kota Siborongborong. Desa yang terkenal dengan panopa giring-giring (penempa lonceng gereja) itu adalah usaha yang sudah digeluti warga Sitampurung turun-temurun,<br />
yaitu oleh marga Sihombing, khususnya Lumbantoruan yang menjadi marga mayoritas.</p>
<p>Selain membuat giring-giring di Sitampurung juga diproduksi alat rumah tangga, seperti piso atau pisau, sasabi atau disebut parang, panggu atau cangkul. Namun,<br />
sejak produk dari RRT membanjiri toko-toko alat pertanian di Tapanuli, membuat para penempa besi Sitampurung ini kewalahan, dan tidak sedikit yang rubuh.</p>
<p>Untuk menyelamatkan keadaan, tahun lalu, dalam rangka pesta “Parolopolopon 55 tahun HKBP Dolok Nauli,”di Sitampurung, Bonar Napitupulu, Ephorus HKBP dan Torang Lumbantobing, Bupati Tapanuli Utara, memberikan bantuan berupa mesin spring hammer kepada dua kelompok penempa besi di sana. Ketiganya adalah kelompok yang dibina oleh pemerintah kabupaten Tapanuli Utara, di antaranya Rapma dan kelompok Rapi. Pemberian bantuan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan ekonomi penempa besi yang selama ini masih dikerjakan secara manual.</p>
<p>Ketua kelompok Rapi, R. Lumbantoruan, yang mewakili kelompok penempa besi, berterima kasih atas bantuan Pemerintah Daerah dan pucuk pimpinan HKBP tersebut. Dia berharap, se-telah menggunakan sistem spring hammer, produksi mereka meningkat menjadi dua kali lipat.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-513" title="giring" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/giring.jpg" alt="giring" width="450" height="280" /></p>
<p>“Hasil produksi pasti lebih dua kali lipat jika mengunakan mesin dibanding dengan manual. Masalah lain adalah, mahalnya harga jual, tidak terlepas dari tingginya<br />
harga besi di pasar. Harganya Rp3.500/kg ditambah lagi upah pekerja per orang yang semakin mahal. Jadi, tidak sesuai antara pendapat dengan pemasukan. Misalnya, cangkul, harga produksi pengrajin dijual Rp15.000 per buah, tetapi harga produk serupa dari Cina di pasaran hanya Rp13.500,” ungkap Lumbantoruan.</p>
<p>Dulu, sebelum banjirnya produk RRT, ada 100 unit usaha di Sitampurung dengan kapasitas produksi rata-rata 25 cangkul per hari. Sekarang sudah menyusut, 60 unit saja yang bertahan. Hal tersebut dibenarkan Parisma Lubis, salah seorang peng-rajin besi di Sitampurung. Dia mengungkapkan, petani di wilayah ini sudah tidak lagi memesan alat-alat pertanian, seperti cangkul dan babat, kepada pengrajin besi lokal, tetapi membeli produk sejenis dari RRT yang dengan mudah didapatkan<br />
di toko-toko penjualan alat pertanian.</p>
<p>Tambahnya lagi: “Penurunan permintaan sangat berdampak pada pengrajin besi. Tidak sedikit pengrajin itu terpaksa menghentikan usaha yang sudah bertahun-tahun digelutinya.”Selama ini, produksi giring-giring di pesanan gereja, sekolah dan perkebunan di Sumatera, khususnya Sumatera Timur. Sementara alat-alat rumah tangga dijual kepada petani di Bona Pasogit.</p>
<p>** Hotman J Lumban Gaol</p>
<p>*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi November</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/11/nasib-sitopa-giring-giring-di-sitampurung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kini Petani Itu Menarik Becak</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/11/kini-petani-itu-menarik-becak/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/11/kini-petani-itu-menarik-becak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:35:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Kini Petani Itu Menarik Becak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Pukul 10 pagi, di depan pasar Balige, banyak becak motor yang menanti penumpang. Si pemilik becak itu sengaja memarkirkan kuda besi itu berderet pas di muka pasar Balige, tertib dan teratur.

Tak jauh dari situ ada sebuah becak lagi. Becak yang satu ini tidak ikut mengantri. Dia memarkir becak motornya sedikit lebih jauh dari pintu masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pukul 10 pagi, di depan pasar Balige, banyak becak motor yang menanti penumpang. Si pemilik becak itu sengaja memarkirkan kuda besi itu berderet pas di muka pasar Balige, tertib dan teratur.</em></p>
<p><em><br />
Tak jauh dari situ ada sebuah becak lagi. Becak yang satu ini tidak ikut mengantri. Dia memarkir becak motornya sedikit lebih jauh dari pintu masuk pasar. Terkesan si pengayuh becak mungkin tak sabar untuk menunggu giliran penumpang, atau dia memang sedang tidak ingin menarik becak hari itu. Kelihatan dia sangat rapi. Memakai jas. Mungkin akan bepergian atau ada acara adat. Maklum hari itu hari Sabtu.</em></p>
<p>Saat ditegur, dia menga­takan, ”Buat apa becak saya ini difoto? Kalau ini bukan becak dari Balige. Ini becak di Laguboti.” Amang itu menolak, saat saya meminta izin mengambil foto sebuah becak se­bagai kenang-kenangan dari Balige. Namun, alasan yang dikemukakan­nya cukup menarik. Becaknya bukan becak Balige!</p>
<p>Terang-benderanglah dunia ini, setelah dia mengatakan kalau becak di Balige itu becak Vespa sedangkan be­cak di Laguboti menggunakan mesin Honda. Kedua-duanya sama-sama ”kuda sembrani,” namun beda mesin, beda tenaga. Katanya, memang be­cak Vespa awalnya lebih ada dulu di Balige, sekitar tahun 1982. Baru se-telah itu muncul di Laguboti setahun kemudian. Semua becak-becak Vespa ini semula didatangkan dari Padang Sidempuan.</p>
<p>Semula, becak yang digunakan di Laguboti pun sama dengan yang di Balige, becak Vespa. Namun, ka-rena kondisi di Laguboti yang kurang cocok, karena jarak antar satu huta ke huta lain masih cukup jauh, juga jalan banyak yang berkelok dan me­nanjak, maka berubahlah becak Vespa di Laguboti menjadi becak dengan mesin bermerk Honda, sekitar tahun 1994.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-509" title="becak" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/becak.jpg" alt="becak" width="450" height="280" /></p>
<p>Memang, Balige lebih sesuai untuk becak Vespa, karena sebagai sebuah kota dia sudah menjadi pusat bagi daerah-daerah di sekitarnya. Sara­na dan prasarana kota sudah memad­ai. Kerumunan dan keramaian ada di Balige. Dan jarak tempuh becak Vespa ini pun paling jauh hanya untuk berp­utar-putar keliling kota. Jarang terlihat becak Vespa dari Balige mengantar penumpang sampai ke Laguboti, na­mun becak Laguboti, yang bermesin Honda itu cukup sering terlihat di Balige. Begitulah, mungkin atas dasar itu amang yang pemilik becak Honda dari Laguboti itu agak enggan saat be­cak miliknya diambil fotonya. Karena becaknya bukan becak Balige.</p>
<p><strong>Hilir-mudik mencari sewa</strong></p>
<p>Tapi, siapakah sebenarnya amang itu, yang punya becak Honda itu? Ternyata tadinya dia seorang petani. Sama halnya dengan pengen­dara becak Vespa di Balige, juga petani. Mereka semua petani, sebagian masih petani, namun tak bisa lagi meng­gantungkan nasibnya semata-mata pada hasil pertanian. Karena huta me-reka sudah menggeliat menjadi kota. Balige pun sudah bisa kita sebut se­bagai kota kecil. Sebagai sebuah kota, dia memang masih agraris dengan sumberdaya dari hasil pertanian. Na­mun, perdagangan dan jasa juga sudah kental. Itulah yang dialami oleh para petani yang kini juga berjuang hidup menjadi penarik becak. Mereka sadar huta-nya sudah berubah kini.</p>
<p>Hal itu juga yang dialami oleh Amang Anton Siahaan. Dia semula adalah seorang petani yang kini men­jadi penarik becak Vespa di Balige. Biasanya,<br />
dia mangkal dan hilir-mudik mencari sewa mulai dari pelabuhan sampai ke Pasar Balige, di pusat kota. Coba dengar alasan amang itu kenapa dia mengayuh kuda besi itu sekarang? ”Kalau mengandalkan hasil padi itu susah. Bayangkan saja, sekali panen hanya 40 kaleng dan itu pun panen setahun hanya dua kali.” Katanya, memang<br />
ada perkumpulan atau komunitas becak Vespa di Balige, yang saat ini anggotanya berjumlah sekitar 180 orang. Namun, dia enggan untuk ikut bergabung, lebih suka ketemu sewa di jalan saja.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-510" title="becak_2" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/becak_2.jpg" alt="becak_2" width="500" height="480" /><br />
Ternyata becak Vespa di Balige pun sudah banyak, sudah mencapai 300 jumlahnya. Menarik, biasanya mereka semua keluar pada hari Jumat, karena pada hari itu para penjual hasil pertanian memasarkan sayur-mayur dan buah-buahan di sepanjang trotoar di beberapa tikungan kota. Bayangkan kerumunan yang muncul di kota Balige di hari Jumat. Di hari itu, semua becak Vespa keluar dari ”sarangnya” mengangkut hasil bumi dari para petani ke pusat kota Balige. Perlu dicatat, ternyata sebuah derap dan proses perkembangan sebuah kota, tak hanya terlihat dari bangunan fisiknya, namun juga dari jenis transportasi penduduknya. Dan urat nadi Balige ditentukan oleh becak Vespa.</p>
<p>** <em><strong>Chris Poerba</strong></em></p>
<p>*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi November</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/11/kini-petani-itu-menarik-becak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini Sjahrir: Bangga Terlahir Sebagai Boru Batak&#8230;</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/11/kartini-sjahrir-bangga-terlahir-sebagai-boru-batak/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/11/kartini-sjahrir-bangga-terlahir-sebagai-boru-batak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini Sjahrir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Nurmala Kartini Panjaitan atau yang sering dikenal dengan nama Kartini Sjahrir, dengan jelas menyatakan bahwa salah satu harapannya dengan menjadi seorang Ketua Umum Partai adalah untuk dapat lebih memberdayakan kaum perempuan di Indonesia. Menjadi seorang presiden tidak kerap diucapkannya
sebagai salah satu impiannya. Ketika ditanyakan secara langsung, Kartini berkata ia tidak punya ambisi untuk menjadi Presiden.
Secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Nurmala Kartini Panjaitan atau yang sering dikenal dengan nama Kartini Sjahrir, dengan jelas menyatakan bahwa salah satu harapannya dengan menjadi seorang Ketua Umum Partai adalah untuk dapat lebih memberdayakan kaum perempuan di Indonesia. Menjadi seorang presiden tidak kerap diucapkannya<br />
sebagai salah satu impiannya. Ketika ditanyakan secara langsung, Kartini berkata ia tidak punya ambisi untuk menjadi Presiden.</em></p>
<p>Secara tegas, ia berkata pula bahwa ia kerap beru­saha agar anggota legis­latifnya dan para anggota Partai Indonesia Baru (PIB) selalu menggunakan akal sehat dalam men­jalankan kegiatan mereka masing-mas­ing. “Melalui PIB, saya juga ingin bisa menyuarakan soal-soal keadilan, plu­ralisme, pemberantasan korupsi secara lebih efektif,” ungkapnya. “Harapan saya ketika menerima jabatan Ketua Umum PIB adalah agar lebih banyak perempuan berkiprah di politik, yang selama ini dianggap teritori kaum laki-laki,” kata tokoh yang kerap dipanggil Ker oleh para sahabat dan kerabatnya.</p>
<p>Partai Indonesia Baru sendiri awalnya dipimpin oleh suaminya Dr. Sjahrir, almarhum. Kartini kemudian dipilih sebagai Ketua Umum yang dipercaya dapat memimpin dan mengarahkan PIB kembali sepeninggal Sjahrir.</p>
<p>“Pak Sjahrir adalah orang yang amat moderat dan pluralis,” kenangnya. “Beliau itu mentor saya, sambungnya lagi. Menurut kisahnya, sejak bertemu semasa menjadi mahasiswa di Universi­tas Indonesia, Sjahrir dan dirinya langsung saling menemukan ke­cocokan, dan dalam berbagai hal selalu saling melengkapi. “Saya ini banyak belajar dari Pak Sjahrir soal-soal ekonomi, juga politik, dan se­baliknya beliau juga banyak belajar dari saya mengenai budaya.”</p>
<p>Menikah dengan Sjahrir sela­ma kurang lebih 31 tahun, baginya juga menjadi proses perjalanan panjang untuk kemudian memu­tuskan berkiprah di dunia politik.<br />
Sehari-harinya Kartini seka­rang ini tinggal sendirian di ru­mahnya, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Tetapi, menurut pengakuannya ia jauh dari rasa ke-sepian, karena banyaknya kesibu­kan sebagai Ketua Umum. Belum lagi banyaknya kerabat yang men­gunjunginya meski sudah ditinggal suaminya, Dr. Sjahrir.</p>
<p>Ketika ditemui, suasana ke­diamannya terasa ramai. “Ini salah satu warisan beliau. Dia paling senang dengan suasana rumah yang ramai,” ucapnya ramah. Secara berseloroh, Kartini menyatakan bahwa dalam beberapa hal Sjahrir sering dikatakan lebih Batak dari­pada dirinya sendiri. Sifatnya yang terbuka, senang mengobrol, bicara meledak-ledak, musikal, senang manortor, dan suka keramaian, yang cenderung mencirikan orang Batak. Ungkap Kartini: “Beliau sempat diadatin pula, marganya dalam Batak adalah Marpaung,” kata Kartini mengenang.<br />
“Kami menikah selama 31 tahun, and it was a very happy marriage…” Kartini mengatakan dia memang ingin dikenal seba­gai Kartini Sjahrir, sebagai bentuk hormat dan bakti pada almarhum suaminya.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-504" title="sosok" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/sosok.jpg" alt="sosok" width="400" height="480" /></p>
<p>Meski Pandu dan Gita, kedua putra dan putri pasangan Kartini-Sjahrir, kini tinggal dan hidup di Amerika Serikat, Kartini kerap me­nyatakan bahwa ia dan Sjahrir tidak pernah lupa mengingatkan soal bu­daya dan asal-usul mereka sebagai anak-anak bangsa Indonesia.</p>
<p><strong>Anak-anak global</strong></p>
<p>Kartini mengatakan, meski almarhum suaminya berasal dari suku bangsa Minang dan dirinya Batak, di antara keduanya tidak pernah ada bentrokan khusus da­lam hal budaya. Tak ada perten­tangan dalam masalah garis ketu­runan. Maklum, kita semua tahu, katanya, suku Minang memiliki sistem kekerabatan matrilineal, dan sebaliknya Batak dengan sistem patrilineal.<br />
Tidak penting buat Kartini dan Sjahir bahwa anak-anak akan punya garis keturunan dari mana. Keduanya menyebut anak-anak tersebut sebagai anak-anak global, yang tetap tidak boleh lupa akan budaya asal mereka. “Yang pen-ting, budaya itu harus diambil ba­ranya bukan debunya,” katanya.</p>
<p>Di dalam kehidupan sehari-hari, Kartini pula menyatakan ia biasanya berbahasa Inggris dengan kedua putra-putrinya yang kini tinggal di New York, Amerika Ser­ikat. “Bukan untuk bergaya, hanya saja kebiasaan yang sulit ditinggal­kan,” katanya renyah. Sejak menun­tut ilmu untuk meraih S2 dan S3, Kartini dan Sjahrir lama bermu­kim di Amerika Serikat, sampai kedua anak mereka lahir dan kem­bali menimba ilmu di tempat yang sama. Namun uniknya, menurut Kartini ia lebih fasih menggunakan bahasa Batak ketika sedang berada dalam puncak kemarahan. “Ras­anya keluar saja dari mulut saya, dan biasanya anak-anak saya sudah mengerti saya marah kalo saya su­dah pakai bahasa Batak” jelasnya sambil tersenyum.</p>
<p>Kartini berkali-kali menga­takan ia bangga terlahir sebagai seorang Batak. Pembawaan orang Batak yang merdeka, straight for­ward, haus ilmu dan senang tantan­gan, dan ini semua mendorong ke arah kemajuan. Tapi, menurut dia, ada satu hal yang menjadi kelema­han orang Batak yang membuat­nya sering kalah. “Orang Batak itu kurang suka melayani, karena pride-nya yang cenderung tinggi,” keluh­nya. Ini berpengaruh pada Batak dan wilayahnya yang kemudian kurang dikenal luas sebagai daerah yang ramah apalagi menjadi tujuan wisata. “Antara lain karena prinsip kau yang datang kau yang menye­suaikan tersebut,” ungkap Kartini, yang membuat Tanah Batak kurang pesona keramahan. Kartini sangat menyayangkan hal ini dan menu­rutnya sikap semacam ini sehar­usnya dikikis, sebab, orang Batak sesungguhnya sudah cukup punya potensi tinggi untuk selalu maju dalam hidup mereka.</p>
<p>Sebagai Ketua Umum PIB, Kartini juga berkegiatan mengawa­si anggota legislatifnya hingga ke daerah-daerah, terutama menjaga agar tidak terjadi penyelewengan di kalangan wakil daerah tersebut, khususnya dalam hal korupsi.</p>
<p>Korupsi, baginya, adalah hal dasar yang sudah harus diberantas dari dalam tubuh bangsa ini. “Pak Sjahrir banyak menulis tentang ko­rupsi, yang katanya sudah menjadi kanker taraf terminal.” Kartini lalu mengenang yang juga pernah sekali mengutip Bung Hatta yang menya­takan bahwa korupsi sudah men­jadi ”budaya” bangsa kita ini. Maka jelas, korupsi adalah masalah yang harus mendapat perhatian khusus, agar kemudian ia tak berkembang menjadi keyakinan bangsa yang mengakar. Kartini juga member­lakukan hal yang cukup keras, yaitu langsung memberhentikan ang­gotanya dari tugas sebagai wakil rakyat, jika ada anggota legislatif dari PIB yang tercium melakukan korupsi. “Segamblang itu, dan saya sudah sosialisasikan ini sejak awal,” kata tokoh yang bangga disebut se­bagai Boru Batak ini.</p>
<p>Hal kedua yang juga penting adalah perhatian terhadap ling­kungan hidup. Orang Indonesia, terutama yang di daerah, seringkali lupa peduli pada lingkungan. Ini sesungguhnya bisa dimulai dari ru­mah, dan itu bersumber dari ajaran sang Ibu juga.</p>
<p><img title="sosok_2" src="../wp-content/uploads/2009/11/sosok_2-300x288.jpg" alt="sosok_2" width="300" height="288" /><br />
<strong>Kejadian Mei 1998</strong></p>
<p>“Perempuan itu sering dikenai standar ganda,” katanya lirih. Di satu sisi ia diagung-agungkan, di sisi lain ia sering dilemahkan. Padahal, sudah jelas sekali perempuan dan lelaki itu diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi, katanya lagi. Dalam berperan sebagai Ketum PIB, Kartini tidak segan-segan bersikap keras, bahkan mengganti anggota Partainya yang duduk di DPRD, yang diketahui memiliki dua istri. Ini, katanya adalah hak prerogatifnya sebagai sang pemimpin. “Menjadi anggota legislatif artinya menjadi milik masyarakat. Anda harus berlaku sebaik-baiknya.” Menurutnya poligami berdampak ter-hadap kesempatan untuk melakukan korupsi. “Punya istri satu saja cenderung korupsi, apalagi harus menghidupi dua rumah tangga,” katanya pasti.Kartini sejak lama sudah mengkhawatirkan masalah-masalah perempuan semacam ini, dan menjadi salah seorang pendiri Suara Ibu Peduli, sebuah forum yang peduli terhadap problem hak-hak asasi perempuan yang seringkali diabaikan. Dia juga sekaligus menjadi pemerhati lingkungan hidup.</p>
<p>“Kejadian Mei 1998, misalnya, adalah tragedi memilukan yang bisa dialami seorang perempuan Indonesia,” katanya. Meskipun nantinya kasus tersebut akan sulit diusut atau diungkap tuntas, Kartini menyatakan bahwa peristiwa semacam itu sangat memalukan dan tak boleh terulang. Dan kita (perempuan) sendirilah yang harus ada di garis depan untuk mengingatkan hal semacam ini.</p>
<p>Meski demikian, Kartini yakin pula, bahwa perubahan sudah mulai terjadi. Di sana sini, perbaikan mengenai peranan perempuan sebagai manusia yang sejajar dengan lelaki, sudah semakin tumbuh. “Bukti kecilnya, saya sebagai perempuan juga bisa menjadi Ketua Umum Partai.”</p>
<p>Bercermin pada Kartini Sjahrir, maka selebihnya di tangan kaum perempuan sendiri untuk mamahami siapa dirinya dan apa yang sanggup dilakukannya. Sebab, kepercayaan diri dan gambaran tentang perempuan haruslah dibangun oleh mereka sendiri. “Kalau bukan kita (perempuan) siapa lagi?” ungkapnya sambil tersenyum lebar, seraya menunggu dunia di luar dirinya untuk membenarkan sikap yang telah dia ambil dan jalankan dengan penuh keyakinan, baik ketika Sjahrir masih mendampinginya maupun ketika dia harus tegak sendiri seperti saat ini, yang hanya dituntun oleh sebuah cita-cita untuk kemuliaan kaumnya: perempuan dan Batak pula&#8230;</p>
<p>** <em><strong>Ariani Zarah Sirait</strong></em></p>
<p>*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi November</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/11/kartini-sjahrir-bangga-terlahir-sebagai-boru-batak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Seni dan Festival Kesenian</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/11/pendidikan-seni-dan-festival-kesenian/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/11/pendidikan-seni-dan-festival-kesenian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:45:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Seni dan Festival Kesenian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 1999 Prof. Dr. I Made Bandem, yang saat itu menja­bat sebagai Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mempra­karsai dibentuknya Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indo­nesia (BKS-PTSI). Badan kerjasama ini diikuti oleh Institut Kesenian Jakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar, Sekolah Tinggi Seni In­donesia Bandung, Sekolah Tinggi Seni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pada tahun 1999 Prof. Dr. I Made Bandem, yang saat itu menja­bat sebagai Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mempra­karsai dibentuknya Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indo­nesia (BKS-PTSI). Badan kerjasama ini diikuti oleh Institut Kesenian Jakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar, Sekolah Tinggi Seni In­donesia Bandung, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang, dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika Surabaya. Ketujuh pergu­ruan tinggi tersebut dengan teratur mengadakan Festival Kesenian Indonesia sebagai acara dua tahunan. FKI yang pertama tahun 1999 di Yogyakarta, FKI kedua tahun 2001 berlangsung di Padang Panjang, FKI ketiga tahun 2003 di Surabaya, FKI keempat tahun 2005 di Bandung, FKI kelima tahun 2007 di Depasar, dan FKI yang keenam berlangsung 5-8 Oktober 2009 di Jakarta . </em></p>
<p>Dalam FKI keenam tahun 2009 ini, IKJ mendapat kesempatan seba­gai tempat kegiatan fetival dengan tema Exploring Root of Identity, yang mengandung makna bahwa se­tiap seni budaya dan industri budaya harus dicari dari akar kekuatan bu­dayanya sendiri.<br />
Kegiatan FKI ini dimaksud­kan untuk berfungsi sebagai sarana interaksi, forum komunikasi, dan konsultasi, serta sarana penunjang peningkatan kwalitas Tri Dharma Perguruan Tinggi, juga ruang kreatif dan dialogis.</p>
<p>Rangkaian festival meli­puti pertunjukan tari, teater, musik etnis, simponi, pameran seni rupa dan fotografi, aneka workshop dan acara khusus yang melibatkan maha­siswa, seperti street fashion, karnaval, lukisan mural, bazaar.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-501" title="seni" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/seni.jpg" alt="seni" width="450" height="280" /></p>
<p>Di sela-sela acara ada mo­mentum penting, yaitu terpilih­nya Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A sebagai ketua BKS-PTS. Menurut dia pihaknya ke depan sudah memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu bagaimana seni bu­daya bisa sebagai perekat bangsa dan meningkatkan daya saing bangsa serta mengangkat citra Indonesia di dunia internasional.</p>
<p>Serah terima jabatan dari Prof. Sardono W. Kusuma (mantan Rektor IKJ) kepada Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A berlangsung di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 8 Oktober 2009. Prof. Rai menambahkan bahwa meningkatkan daya saing bangsa itu adalah lewat peningkatan kualitas dan bagaimana perguruan tinggi seni tersebut mam­pu berbasis lokal dengan kualitas bertaraf internasional. Hal ini pent­ing, bahwa walaupun kita memi­liki visi internasional, namun kita harus tetap mempertahankan lo­cal genius, local wisdom yang te­lah diwariskan sejak dulu.</p>
<p>Menurut dia, salah satu programnya nanti adalah mem­berikan pelajaran seni nusantara sejak usia dini. Hal ini penting karena jika kita dari awal sudah memperkenalkan berbagai seni dan budaya nusantara kepada generasi penerus, maka niscaya akan melahirkan apresiasi, tum­buh kecintaan dan keharmo-nisan. “Sehingga ada anggapan bahwa perbedaan itu adalah in­dah bukan sekedar wacana,” kata Wayan Rai S yang akan menjadi ketua BKS-PTSI hingga berlang­sungnya festival kesenian Indone­sia tahun 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/11/pendidikan-seni-dan-festival-kesenian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merawat Opera Batak, Mistik yang Artistik</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/11/merawat-opera-batak-mistik-yang-artistik/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/11/merawat-opera-batak-mistik-yang-artistik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:36:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Pandang]]></category>
		<category><![CDATA[Merawat Opera Batak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, seorang keluarga menunggu anaknya yang belum pulang dari perantauan. Berhari-hari seperti berbulan-bulan, berbulan-bulan layaknya berabad, namun putra yang dinanti tak kunjung tiba. Setiap hari kedua orangtuanya harap-harap cemas menunggunya jauh di luar kampung. Ayahnya, setiap pagi mengayunkan langkahnya ke depan huta. Menjelang petang dia baru kembali ke rumahnya dengan berita yang sama: anaknya belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Alkisah, seorang keluarga menunggu anaknya yang belum pulang dari perantauan. Berhari-hari seperti berbulan-bulan, berbulan-bulan layaknya berabad, namun putra yang dinanti tak kunjung tiba. Setiap hari kedua orangtuanya harap-harap cemas menunggunya jauh di luar kampung. Ayahnya, setiap pagi mengayunkan langkahnya ke depan huta. Menjelang petang dia baru kembali ke rumahnya dengan berita yang sama: anaknya belum juga pulang. Dia pun tak pernah tahu apak­ah anaknya itu masih hidup atau sudah kembali ke pangkuan Mula jadi nabolon, sang penguasa langit. Sampai suatu saat, si ayah sudah pas­rah dan merelakan anaknya itu kalau dia tak akan kembali lagi. </em></p>
<p>Namun, dia tak kurang akal dan berniat mengganti­kan sosok anaknya itu dengan sebuah patung, yang den­gan bantuan mistik maka patung itu bisa bergerak-gerak. Patung yang bisa bergerak itu, mungkin bisa juga dika­takan seperti patung boneka, diletak­kan di halaman rumahnya, sehingga saat dia melihat patung itu, dia mem­bayangkan putranya yang telah hil­ang “ditelan” bumi dan “menguap” ke angkasa. Saat menikmati patung itu maka kerinduannya tergapai seketi­ka. Itulah awal-mula kisah si gale-gale dari Pulau Samosir yang sangat terke­nal itu. Sebuah cerita rakyat yang san­gat kesohor dari Tanah Batak.</p>
<p>Ternyata, ada yang menarik dari ceritaitu. Dengan terciptanya patung si gale-gale, maka periode awal seni pertunjukkan di Tanah Batak men­emukan titik awalnya saat itu. Selain si gale-gale, mungkin ada cerita-cerita rakyat yang lain, yang hampir serupa, tetapi si gale-gale lebih menonjol daripada yang lain. Dialah cikal-bakal seni pertunjukkan di Bona Pasogit.</p>
<p>Si Amang, yang membuat si gale-gale itu pun mungkin tak akan menyangka kalau berkat dia dan kua­sa mistis, maka terciptalah seni per­tunjukkan dalam era permulaan per­adaban Batak. Amang itu, si pembuat gale-gale itu, bisa pula dicatat kalau dialah si penemu seni pertunjukkan Batak yang pertama kali, walau men­jadi artis atau penemu kesenian pasti tak penting baginya. Keinginannya hanya satu, menjawab kerinduannya kepada anaknya yang tak kunjung datang, yang sedikit banyak terobati oleh patung si gale-gale. Saat si gale-gale itu bergerak-gerak, dengan kepal­anya menggeleng-geleng, tangannya kadang kala naik kadang turun, maka saat itu dia mulai dinikmati. Saat itu pula si gale-gale sudah menjadi sebuah karya seni, sebuah karya yang artistik, yang bermula dari sesuatu yang mistis.</p>
<p><strong>”Syahwat spiritualitas”</strong></p>
<p>Kalau kita hendak menarik kembali jauh ke belakang, untuk mengupas sejarah panjang seni per­tunjukan di Batak, ternyata seni, sadar-tak-sadar sudah menjadi kes­atuan dalam keseharian adat Batak. Umumnya, hampir semua upacara adat merupakan karya dari seni per­tunjukkan, terlihat dengan adanya tari tor-tor yang mengiringi bunyi gondang. Dan yang terpenting, adan­ya maksud dan narasi besar mengapa momen upacara adat itu dilangsung­kan. Ada upacara adat yang dilakukan saat pernikahan, ada juga pada saat panen padi. Aturan-aturan adat juga diumumkan tentang apa yang boleh dilakukan saat berjalannya upacara. Bisakah dinyatakan saat berlangsung­nya upacara adat, untuk pertama kal­inya, di Batak, saat itu sesungguhnya tengah berlangsung seni pertunjuk­kan? Jawaban sangat rumit.</p>
<p>Pada awalnya, semua upacara di Batak adalah sebuah ritual. Si pelaku upacara adat itu tentu tak begitu penting, tapi apakah upacara yang dijalankannya itu bisa dikategorikan sebagai seni pertunjukkan? Mereka mungkin akan marah besar, karena semua yang telah mereka lakukan murni sebagai penghayatan batin dan keimanan. Seorang Parmalim tentu­nya akan tersinggung kalau upacara Sipahalima disebut sebagai sebuah seni pertunjukan. Demikian pula hal­nya para penganut agama Kristen, saat mereka melakukan napak tilas jalan penderitaan Yesus menuju penghaki­man terakhir, di bukit Golgota, yang sering disebut dengan jalan penderi­taan, Via Dolorosa. Tentu saja orang Kristen menolak kalau mengatakan itu adalah seni pertunjukkan.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-497" title="opera" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/opera.jpg" alt="opera" width="400" height="480" /></p>
<p>Sipahalima dan Via Dolorosa lebih merupakan representasi iman keagamaan mereka masing-masing. Termasuk juga agama-agama lain yang merayakan ritual mingguan keagamaan di tempat-tempat ibadah. Mereka akan naik pitam kalau ibadah yang sedang mereka laksanakan ada­lah wujud dari sebuah seni pertun­jukkan yang sarat teatrikal.<br />
Meskipun bila kita mengambil kata mistik yang artistik, maka sudah sangat terang benderang, adanya per­an seorang yang membuat berlang­sungnya prosesi mistik (metafisik) itu dan mengubahnya menjadi ber­cita rasa artistik. Ada peran subyek yang dominan di situ. Namun, mem­perbincangkan semua ini pun, sangat sensitif, karena semua terkait dengan ”syahwat spiritualitas” kita kepada Sang Pencipta. Meskipun tetap ada peran subyek yang menandai, mem­berikan pemaknaan, terhadap ritual itu. Sehingga subyek yang dalam up­acara sakral itu sekaligus juga meru­pakan artis yang menciptakan upac­ara yang artistik itu.</p>
<p><strong>Menjadi profan? </strong></p>
<p>Mistik dan artistik, (tradisi) ritual dan seni tadisi ibarat dua anak kembar yang dilahirkan dari ”rahim” yang sama. Hal ini tak hanya terjadi di Tanah Batak, juga di belahan nu­santara yang lain yang masih mem­pertahankan nilai-nilai tradisi. Seni tradisi, sederhananya dapat dinya­takan sebagai tradisi yang disenikan, diulang-ulang, dipertontonkan agar lebih banyak lagi khalayak yang bisa menikmatinya dan merasakan es­ensinya. Salah satu tradisi yang dis­enikan itu dapat dilakukan dalam media seni pertunjukan.</p>
<p>Lantas bagaimana memban­gun jarak agar semua yang tadinya terkait mistik dapat lebih beroperasi menjadi sesuatu yang artistik? Pada kebudayaan Batak, tak akan mudah mengesampingkan seni pertunjuk­kan tradisi dari ranah ritual yang sarat spiritualitas. Akan sangat berat pula bila membuat dikotomi segala sesuatu yang mistik, yang sakral itu, bisa dijadikan menjadi seni pertunju­kan yang sangat profan, tidak kudus. Karena semuanya bermula dari ritual yang sakral itu. Saat yang ritual, yang sakral itu di komodifikasi menjadi yang profane. Karena itu, menjadi­kan sebuah seni pertunjukan, itu harus dilakukan berhati-hati, sebab menyangkut komunitas yang men­jalankan upacara itu.<br />
<strong><br />
Tonil Batak </strong></p>
<p>Seni pertunjukkan tradisi yang sarat artistik di Tanah Batak sering diidentikkan dengan Opera Batak. Di dalam opera biasanya terdapat tiga unsur, yaitu musik, tor-tor, lagu, dan juga ada lakon cerita. Ketiga unsur ini sebenarnya bisa dinikmati tersendiri, namun saling melengkapi, karena ketiga unsur itu saling berhubungan dengan adanya lakon cerita. Opera sendiri, dari pengertian Eropa lebih diartikan sebagai drama yang din­yanyikan. Kabarnya, Opera Batak, telah muncul sekitar tahun 1920-an, namun saat itu belum disebut Opera, tetapi Tonil, Tonil Batak. Tonil itu biasanya mempertunjukkan lakon cerita seperti Tilhang Parhasapi, Par­jamila atau Parjabalungan.</p>
<p>Model pertunjukannya biasa dilakukan dengan cara mengamen, terus berjalan dari satu huta ke huta lainnya. Keluar masuk kampung, be­gitulah yang dilakukan para artis op­era Batak di awal mulanya. Terkadang mereka beramai-ramai, namun tak jarang pertunjukkan itu hanya terdiri satu orang. Sekitar tahun 1930-an, mulailah terjadi akulturasi dengan seni pertunjukan dengan penamba­han sebuah lakon. Ini akhirnya lazim dikenal dengan teater. Saat itulah istilah Opera Batak mulai semakin populer, berkat seorang misionaris yang bernama Pastor Diego Van Den Bigglar. Dialah yang semakin mem­populerkan Opera Batak yang dimu­lai dari Samosir, di daerah Mogang, Kecamatan Palipi.</p>
<p>Opera Batak memasuki masa keemasannya sekitar tahun 1980-an. Saat itu diperkirakan masih ada 30 kelompok Opera Batak. Salah satu yang naik pamor adalah Seni Ragam Indonesia (Serindo). Serindo ini memiliki sebuah kelebihan lagi. Para pemainnya tak hanya halak kita, tapi ada pula yang berasal dari beberapa suku lain. Kelompok ini pernah diun­dang Presiden Sukarno untuk tampil di panggung Istana Negara.</p>
<p>** <strong><em>Chris Poerba</em></strong></p>
<p>*** Artikel selengkapnya baca di majalh tapian edisi November</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/11/merawat-opera-batak-mistik-yang-artistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Pertunjukan Antar Bangsa dan Mangalahat Horbo</title>
		<link>http://majalahtapian.com/2009/11/seni-pertunjukan-antar-bangsa-dan-mangalahat-horbo/</link>
		<comments>http://majalahtapian.com/2009/11/seni-pertunjukan-antar-bangsa-dan-mangalahat-horbo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Pandang]]></category>
		<category><![CDATA[Mangalahat Horbo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtapian.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Komposisi musik John Cage dengan judul “I Ching” yang diciptakan berdasarkan teks Tiongkok klasik, di pentaskan ta­hun 1951. Dia dimainkan dalam konser musik. Caranya de- ngan melemparkan coin lebih dulu, untuk menentukan part atau bagian mana yang akan berhubungan secara khusus serta menjadi rangkaian serial musik yang ditentukan dari hasil lemparan coin berikutnya. Dalam konser [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Komposisi musik John Cage dengan judul “I Ching” yang diciptakan berdasarkan teks Tiongkok klasik, di pentaskan ta­hun 1951. Dia dimainkan dalam konser musik. Caranya de- ngan melemparkan coin lebih dulu, untuk menentukan part atau bagian mana yang akan berhubungan secara khusus serta menjadi rangkaian serial musik yang ditentukan dari hasil lemparan coin berikutnya. Dalam konser ini, part atau bagian musik yang akan dimainkan sangat bergantung pada hasil lempar coin, bukan oleh komponisnya. </em></p>
<p>Setelah konser itu, John Cage mendapat perha­tian yang sangat serius dari publik. Baik penulis, seniman, aktivis serta para pemikir kebudayaan Eropa dan Amerika, mencatat dan mengulas pementasan tersebut, di mana John Cage di-sebutkan berhasil menampilkan ele­men seni pertunjukan dalam sebuah konser musik. Komposisi musik “I Ching” itu akhirnya menjadi tolok-ukur bagi seluruh karya John Cage di kemudian hari.</p>
<p>Pada masa itu, John Cage sa-ngat tertarik pada studi kebudayaan India dan sekte Zen dalam ajaran agama Buddha. Ini mempengaruhi cara pandang maupun opini di ling­kungan akademisi seni, masyarakat, juga dalam komunitas Fluxus di mana John Cage bergabung, sebuah ko­munitas yang menjadi kelompok jaringan kerjasama para seniman eksperimental. Mereka juga meno­lak seni sebagai hal yang sudah baku. Melalui jaringan kerja komunitas Fluxus inilah John bersosialisasi, ber­gaul, dengan berbagai bangsa.</p>
<p>Komunitas Fluxus menjadi besar setelah George Maciunas me-ngelolanya dengan kredo,atau semboyan, Living Art and anti art (seni hidup dan anti seni). George Maciunas berhasil dengan baik men­gorganisir festival Fluxus kedua pada tahun 1963. Festival Fluxus digelar di berbagai kota dan negara. Di Jerman dimulai di kota Weisbaden, kemu­dian menyusul di Belanda, Inggris, Perancis, Swedia hingga Amerika Serikat.</p>
<p>Lewat konsep pemikirannya, John Cage menjadi tokoh yang berperan besar dan membawa pencerahan bagi generasi muda, yaitu menolak pandangan yang me­nyatakan bahwa seni adalah sesuatu yang sudah baku. Melalui musik-musik eksperimentalnya, dia kerapka­li membuat penontonnya terperanjat. Mereka tak menduga tontonan yang ditampilkan itu justru hadir lewat sebuah konser musik. Melihat cara John bereksperimen, tentu sangat berkaitan dengan wawasan, penge­tahuan serta perhatiannya pada seni lain. Artinya, komposisi musik yang ditulisnya tidak berdiri sendiri, tapi termasuk bagaimana cara menampil­kannya. Elemen seni pertunjukan ser­ingkali menjadi inspirasi bagi Cage.</p>
<p>Komunitas Fluxus menawar­kan gagasan baru dalam dunia seni pertunjukan. Tak ada lagi sekat dari seni rupa (disain, grafis, seni patung, teater, musik, sastra, tari, tata cahaya maupun arsitektur), semuanya bisa ditampilkan dalam kerangka kerja seni pertunjukan yang menjadi va-rian yang mereka tekuni. Perkem­bangan seni pertunjukan yang dipelopori oleh komunitas Fluxus ini pun banyak menyerap inspirasi dari Timur, khususnya Asia.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-493" title="sapi" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/sapi-300x156.jpg" alt="sapi" width="300" height="156" /></p>
<p>Contoh lain dari generasi sesu­dah John Cage, adalah Philip Corner. Komponis yang cukup sering berkun­jung ke Indonesia ini, telah menulis 400-an seri komposisi gamelan, di mana karya-karyanya sering dipre-sentasikan oleh grup gamelan “Son of Lion,” sebuah grup gamelan yang didirikan oleh Barbara Benary di kota New York tahun 1976. Philip Corner juga menyusun komposisi musik berdasarkan karya sastra Korea yaitu Jeongak dan Sujecheon.</p>
<p><strong>Ranah budaya Eropa</strong></p>
<p>John Cage maupun Philip Cor­ner, bisa saja dicap orang berkiblat pada seni orientalisme. Apa yang mendorong kedua komponis ini mendalami relegiusitas dan teks-teks dari tradisi Timur? Motif yang paling kuat dan masuk akal adalah keterbu­kaan mereka pada budaya dunia yang lebih luas. Seperti Tiongkok, India, Jepang, Afrika, bahkan Timur Ten­gah. Oleh karena itu, banyak orang yang menempatkan John Cage seba­gai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah seni pertunjukan yang menu­tup abad ke-21 ini. Dengan kata lain, bagi John Cage maupun Philip Cor­ner, seni pertunjukan bukan hanya terbatas pada ranah budaya Eropa dan Amerika saja. Seni pertunjukan bersentuhan dan berdialog dengan seluruh dunia dan segala bangsa.</p>
<p>Dengan semangat bereksperi­men yang kuat, kedua komponis tersebut dapat menghindarkan diri dari jebakan orientalisme yang ser­ing menjadi kendala bagi telaah dan pendekatan antropologis, di mana seni ditempatkan sebagai obyek yang baku dan terjebak dalam eksploitasi pada sisi eksotismenya saja. Seni pertunjukan bagi John Cage dan Philip Corner, adalah seni yang bisa membuka ruang dialog berbagai bu­daya dan bangsa. Tak mengherankan jika seniman berkebangsaan Jepang dan Korea, seperti Yoko Ono, Nam June Paik, Takehisa Kosugi, Shigeko Kubota akhirnya turut bergabung da­lam komunitas internasional Fluxus tersebut.</p>
<p>Kesenian tradisi di Jepang, Ko­rea, Tiongkok maupun India, bisa tumbuh dan beradaptasi dengan konsep-konsep modernisme dalam seni pertunjukan mereka. Banyak grup seni pertunjukan dari negara-negara tersebut yang tampil dan mendapat sambutan di dunia inter­nasional. Seperti Butoh, Sankai Juku dan banyak lagi.</p>
<p>Seni pertunjukan tak lepas dari perkembangan tehnologi. Menyerap penggunaan hasil temuan teknologi dan menerapkannya dalam tata ca­haya, efek panggung maupun tata artistik. Pergaulan para aktivis seni pertunjukan Asia di tingkat inter­nasional kebanyakan muncul dari Jepang, Korea, dan India. Di samping itu para pekerja seni di masing-mas­ing negara giat menyelenggarakan festival seni pertunjukan yang dis­elenggarakan sangat profesional dan diprogram dengan baik.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-494" title="tari" src="http://majalahtapian.com/wp-content/uploads/2009/11/tari.jpg" alt="tari" width="450" height="280" /></p>
<p>Para pelaku seni pertunjukan selalu siap tampil di atas panggung festival seperti itu. Mereka berperan menjembatani keterbatasan bahasa oral manusia, melalui elemen-elemen visual seni pertunjukan. Seperti baha­sa tubuh, ruang, waktu, warna, suara, cahaya, dan elemen teater lainnya. Seni pertunjukan akhirnya menjadi media ekspresi dari berbagai bangsa dalam pergaulan internasional.</p>
<p>Lahirnya kesadaran terhadap potensi seni pertunjukan dalam tra­disi dan budaya Indonesia, mulai tumbuh pada tahun awal tahun 70-an. Didirikanlah gedung teater se­bagai sarana bagi pertunjukan seni tradisional, meskipun dengan jumlah dan kwalitas yang tidak memadai. Gedung-gedung teater itu hanya terdapat di kota-kota besar provinsi saja, itu pun hanya ada di Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Sura­baya, Denpasar, Makasar, Padang, Padang Panjang, Medan, dan Banda Aceh. Pembangunan gedung pertun­jukan itu sesungguhnya lebih banyak atas prakarsa beberapa sesepuh seni pertunjukan itu sendiri. Tanpa mer­eka, belum tentu rezim Orde Baru mau memikirkan sarana sekaligus wadah bagi perkembangan seni per­tunjukan.</p>
<p>** <strong><em>Jeffar Lumban Gaol</em></strong></p>
<p>*** Artikel selengkapnya baca di majalah tapian edisi november</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtapian.com/2009/11/seni-pertunjukan-antar-bangsa-dan-mangalahat-horbo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
